Wednesday, 20 January 2021

Sanksi YouTube Makin Sangar! Hapus Channel Kreator yang Dapat SP3

Sanksi YouTube makin sangar dan bikin ngeri. Mereka membuat kebijakan baru untuk para kreator konten di dalam platformnya. Dalam kebijakan baru itu, YouTube memberikan...
More

    Latest Posts


    Begini pentingnya uang elektronik syariah di masa pandemi

    Pertumbuhan perekonomian di berbagai negara mengalami perlambatan akibat dampak pandemi Covid-19 ini. Bahkan bukan hanya perekonomian dan keuangan konvensional, perekonomian syariah pun tidak luput dari pengaruh pandemi. Lalu, bagaimana sih pentingnya uang elektronik syariah di masa pandemi ini?

    Kondisi pandemi saat ini terbilang mengubah cara masyarakat bertransaksi, dari konvensional menjadi elektronik, karena dianggap lebih aman, mudah, dan efisien.

    Nah, paradiva tau gak sih bahwa layanan Syariah LinkAja yang merupakan uang elektronik berbasis syariah pertama di Indonesia hadir tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan harian kamu, namun juga diharapkan menjadi akselerator ekonomi syariah di Indonesia.

    Dalam implementasinya, Layanan Syariah LinkAja mengedepankan beberapa prinsip dasar, yaitu penempatan dana bekerja sama dengan sejumlah bank syariah, mengaplikasikan tata cara transaksi yang sesuai dengan kaidah syariah, serta dapat diterima di seluruh merchant LinkAja.

    Di samping itu, Layanan Syariah LinkAja juga menghadirkan beragam produk yang sesuai dengan akad syariah dengan tidak ada unsur maisyir (judi), gharar (ketidakjelasan), riba (tambahan), zalim, dan barang tidak halal.

    Seluruh kegiatan transaksi yang dihadirkan oleh Layanan Syariah LinkAja telah sesuai dengan standar kepatuhan syariah yang disahkan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) LinkAja.

    Haryati Lawidjaja, selaku Direktur Utama LinkAja menyampaikan bahwa sebagai uang elektronik nasional, LinkAja melalui Layanan Syariah LinkAja turut mendukung Pemerintah untuk mempercepat inklusi keuangan syariah di Indonesia. Menyadari besarnya potensi Indonesia menjadi sentra ekonomi syariah global, pihaknya berkomitmen untuk terus membangun dan mengembangkan ekosistem syariah di Indonesia dengan memberikan edukasi berkelanjutan mengenai ekonomi dan keuangan syariah melalui sederet program dan produk yang kami hadirkan.

    “Berkolaborasi dengan berbagai pihak lintas sektor, kami optimistis dapat berperan besar dalam mendorong terwujudnya inklusi keuangan syariah di Indonesia,” tambahnya.

    Optimisme mengenai pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia memang tinggi. Indonesia yang merupakan konsumen besar produk halal dan pasar untuk produk-produk halal berpotensi menjadi sentra ekonomi syariah global.

    Potensi dampak ekonomi industri halal terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional bahkan diperkirakan menyentuh angka USD 3,6 miliar. Pengembangan literasi gaya hidup halal bahkan memiliki beragam potensi positif lain seperti mendorong peningkatan permintaan domestik atas produk barang dan jasa halal, memotivasi ekspansi produksi barang dan jasa halal dan mendorong peningkatan kinerja, dan meningkatkan permintaan akan tenaga kerja atau sumber daya manusia ekonomi syariah.

    Terwujudnya Indonesia sebagai sentra ekonomi syariah global tentu saja mengalami kendala. Rendahnya literasi keuangan syariah serta minimnya ketersediaan layanan produk keuangan syariah di tengah masyarakat merupakan tantangan utama yang harus dihadapi pelaku industri syariah di Indonesia.

    Dari hasil survei yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam Survei Nasional Literasi Keuangan melaporkan bahwa pada tahun 2019, literasi keuangan nasional mencapai 38,03%. Tercatat literasi keuangan konvensional mencapai 37,72% sedangkan literasi keuangan syariah hanya berada di angka 8,93%.

    Maka dari itu, untuk mempercepat pertumbuhan perekonomian syariah, Pemerintah melalui Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) meluncurkan Masterplan Ekonomi Syariah Indonesia 2019-2024 sebagai langkah mempercepat pertumbuhan aset keuangan syariah di Indonesia, salah satunya melalui penguatan ekonomi digital.

    Dengan terciptanya ekosistem ekonomi syariah digital melalui teknologi finansial, lembaga keuangan syariah, perdagangan digital, hingga keuangan sosial Islam diharapkan mempercepat pertumbuhan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia dapat terwujud.

    Dalam kesempatan yang sama, Ventje Rahardjo, Direktur Eksekutif Manajemen Eksekutif KNEKS turut menyampaikan bahwa Layanan Syariah LinkAja diharapkan dapat berkolaborasi dengan seluruh stakeholders di dalam ekosistem ekonomi dan keuangan syariah untuk sama-sama meningkatkan literasi dan inklusi layanan keuangan syariah bagi masyarakat, termasuk perluasan jaringan layanan untuk mendukung sektor industri halal, kemudahan pengelolaan ZISWAF, serta kolaborasi di bidang riset dan inovasi.

    “Hadirnya Layanan Syariah LinkAja sebagai uang elektronik syariah pertama di Indonesia dapat memperkuat ekonomi digital syariah dan diharapkan pada tahun 2022 sudah terbentuk ekosistem keuangan syariah berbasis digital yang kuat dan terintegrasi,” ujarnya.

    Fyi, di dalam ekosistem holistiknya saat ini, Layanan Syariah LinkAja telah dapat digunakan di 69 Kotamadya dan 273 Kabupaten yang dapat diakses dan dinikmati oleh seluruh masyarakat Indonesia, yang mencakup masjid, lembaga amil zakat, pusat kuliner halal, modern retail lokal, pesantren, bank syariah, sekolah Islam, dan Universitas Islam.

    Baca juga, LinkAja mudahkan metode pembayaran Reksa Dana di aplikasi Moinves

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Latest Posts

    POPULAR