Sunday, 17 January 2021

Samsung Bakal Rilis Remote Televisi Bertenaga Surya di tahun 2021

Selain serangkaian televisi baru, Samsung juga telah mengumumkan remote control yang lebih ramah lingkungan. Solar Cell Remote Control atau Remote Televisi bertenaga surya dapat...
More

    Latest Posts


    Studi Kaspersky: Cara menghadapi anak dalam bermain game online

    Paradiva tau gak, sih? Menurut studi yang dilakukan Kaspersky menunjukkan bahwa 40% orang tua di Asia Tenggara menganggap anak menjadi “lebih pemarah” setelah bermain video game online.

    Kaspersky Video Game Online

    Ketika seorang anak bermain video game online, paradiva selaku orang tua pastinya memikirkan bagaimana bahaya yang dapat ditimbulkan dari kebiasaan anak bermain game, bukan?

    Bahkan timbul pertanyaan bahwa akankah video game online tersebut dapat memengaruhi perilaku anak? Atau akankah dapat menyebabkan mimpi buruk? Serta akankah ada ketakutan yang tidak bisa dihilangkan? Lalu, bagaimana jika anak sudah terlanjur kecanduan?

    Nah, kali ini Gadgetdiva bakal bahas satu-persatu berdasarkan studi Kaspersky untuk membantu paradiva menavigasi kebiasaan bermain video game online pada anak-anak. Simak dibawah ini, ya!

    Merasa Terasing Akibat Pelarangan Bermain Video Game

    Paradiva yang sangat takut dengan video game secara serius memikirkan tentang larangan
    bermain game secara menyeluruh dalam keluarga.

    Namun, kekhawatiran paradiva selaku orang tua tersebut sering dihentikan oleh ketakutan bahwa ini dapat mengarah pada fakta bahwa sang anak akan menjadi dikucilkan di sekolah jika semua orang bermain game, dan ia tidak memiliki kesempatan tersebut. Haruskah kamu Khawatir?

    Larangan bermain game bukanlah keputusan tepat, misal seorang anak yang teman-temannya bermain video game, pasti akan merasa seperti diperlakukan tidak adil. Selain itu, permainan adalah sebuah seni baru, tidak hanya menarik bagi anak untuk mengenalnya, tetapi juga bisa sangat bermanfaat terutama jika paradiva dapat mengarahkan dengan baik.

    Solusinya adalah pelarangan bukanlah suatu pilihan. Paradiva tidak boleh melarang aktivitas anak dalam video game, tetapi secara efektif mengontrolnya, menggunakan perangkat lunak khusus dan pengaturan perangkat, serta berkomunikasi dengan anak dalam menjelaskan aturannya.

    Membahayakan Penglihatan Dan Postur Tubuh

    Banyak dari paradiva khawatir jika anak banyak menghabiskan waktu bermain, penglihatannya bisa mengalami kerusakan. Lainnya khawatir bahwa terlalu lama duduk di depan komputer atau mencondongkan tubuh di atas ponsel cerdas dapat berdampak negatif pada postur tubuh anak.

    Lalu, haruskah paradiva khawatir? Jawabannya ya! Masalah penglihatan yang sudah ada menjadi alasan untuk mengatur proses permainan dengan lebih hati-hati. Sedangkan untuk postur tubuh juga bisa membahayakan anak apabila tidak diiringi dengan olahraga.

    Solusinya, ketika paradiva memasang monitor yang baik, dapat membantu meringankan masalah penglihatan anak. Selain itu selalu ingat pentingnya posisi yang nyaman saat bermain dan bekerja di depan komputer. Tentunya cara menjaga penglihatan tetap baik adalah dengan membatasi waktu bermain anak, ya!

    Untuk mengatasinya, paradiva bisa melakukan pemeriksaan mata anak secara rutin dengan dokter. Jika anak tidak diperiksa oleh dokter, tetapkan batasan wajar berdasarkan usia anak. Pembatasan tingkat perangkat lunak dapat diatur dengan bantuan program keamanan online, seperti Kaspersky Safe Kids atau pengaturan perangkat internal, seperti dekoder dan perangkat seluler berbasis iOS.

    Perilaku Agresif Yang Disebabkan Oleh Game Kekerasan

    Paradiva yang tidak mahir bermain game komputer, menanam paham bahwa ‘anak-anak menjadi agresif dari game komputer’ sehingga menyerah pada kepanikan dan melarang anak-anak kamu bermain video game.

    Faktanya, perilaku agresif seorang anak tidak didorong oleh video game yang mereka mainkan, tetapi oleh alasan lebih luas.

    Misalkan paradiva tidak menunjukkan video game pada Anak sama sekali, tapi mereka akan tetap berkompetisi kung fu dengan teman-temannya, menembak musuh yang tak terlihat dengan busur, pistol, peluncur granat atau peledak. Baik anak laki-laki maupun perempuan melakukan ini, meskipun diyakini bahwa bermain peperangan adalah hak prerogatif anak laki-laki.

    Jika paradiva mengizinkan, katakanlah, seorang anak berusia enam tahun untuk memainkan game horor seperti seri Doom dan Alien, maka game yang menakutkan, dan penuh kekerasan tersebut dapat benar-benar memengaruhi jiwa seorang anak kecil, hingga menyebabkan mimpi buruk, gangguan tidur lainnya, bahkan ketakutan irasional.

    Begitu pula pada anak-anak yang berusia lebih tua yang sudah memiliki ketakutan atau kecenderungan tertentu. Harus diingat bahwa ada permainan berbeda untuk setiap anak dan usia.

    Solusinya, paradiva bisa gunakan peringkat usia (rating). Selain itu gunakan perangkat lunak untuk membatasi kemampuan peluncuran game atau konten apa pun yang didasarkan pada peringkat usia. Hal terpenting adalah selalu ingat bahwa setiap kali mencoba membatasi akses anak ke permainan, pertama-tama paradiva perlu berbicara dengan anak dan menjelaskan mengapa tindakan tersebut penting dilakukan.

    Sebagai kesimpulan, hal terpenting bukanlah melarang anak bermain video game, tetapi menjaga mereka tetap aman. Ingatlah bahwa enam poin, seperti komunikasi, peringkat usia, batas waktu, perlindungan terhadap kode berbahaya, pengaturan yang membatasi pembelian aplikasi, mendorong anak memiliki hobi di dunia nyata, akan membantu paradiva lebih mengontrol area kehidupan anak.

    Baca juga, Kaspersky: Bermedia sosial menarik minat anak saat pandemi

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Latest Posts

    POPULAR