Monday, 14 June 2021
More

    Latest Posts


    Benarkah Stress Jadi Salah Satu Penyebab dari Rambut Rontok?

    Benarkah stress bisa jadi salah satu penyebab rambut rontok? Dapatakah situasi mengkhawatirkan seperti pandemi COVID-19 secara langsung bisa menjadi salah satu penyebabnya? Simak ulasannya ya!

    Sebenarnya, rambut rontok merupakan hal yang normal. Menurut Academy of American Dermatology (AAD), rata-rata orang merontokkan sekitar 50 dan 100 rambut sehari. Jadi, kamu nggak perlu khawatir jika mendapati beberapa helai rambut di saluran pembuangan di kamar mandi, maupun di sisirmu.

    Namun, jika kamu menemukan helai rambut yang lebih banyak di sarung bantal atau seluruh kerapatan rambutmu berubah, kemungkinan hal tersebut disebabkan oleh stress atau kamu sedang berada di bawah tekanan mental maupaun fisiologis yang intens dan berkepanjangan.

    “Saya pikir hal tersebut adalah kesalahpahaman yang umum, bahkan di antara profesional medis, bahwa rambut rontok biasanya disebabkan oleh stress,” kata Dr. Brittany Craiglow dokter kulit bersertifikat di Fairfield, CT.

    Menurut Brittany, satu kondisi rambut rontok yang dapat dikaitkan dengan stress adalah telogen effluvium. Namun, biasanya hal ini berkaitan dengan stress psikologis yang parah dan berkepanjangan daripada tingkat stress yang lebih rendah atau jenis stress sehari-hari.

    Telogen effuluvium ditandai dengan kerontokan yang berlebihan, namun kamu biasanya tidak akan menyadarinya sampai beberapa bulan setelah pemicu stress. Salah satu contoh yang diberikan AAD adalah seorang ibu baru yang dapat melihat peningkatan keguguran dua bulan setelah kejadian fisiologis seperti melahirkan.

    Namun, mengapa membutuhkan waktu lama bagi rambut kita untuk bereaksi terhadap stress seperti ini? Menurut jawaban dari Dr. Annie Chiu, dokter kulit dan pendiri The Derm Institus menyatakan bahwa hal ini berhubungan dengan siklus pertumbuhan rambut.

    “Biasanya 85% rambut kamu berada dalam fase yang disebut fase anagen (fase tumbuh),” jelas Annie.

    Menurut Annie, stress dapat mengejutkan tubuh kita dan memengaruhi banyak proses internal. Termasuk memengaruhi rambut yang sedang berada dalam fase anagen. Hal ini bisa memicu rambut ke tahap istirahat dan tidak aktif (fase telogen), dimana mereka mengalami kerontokan.

    Selanjutnya, alopecia areata adalah jenis rambut rontok lain yang sering dikaitkan dengan stress. Namun, sebenarnya tidak memiliki hubungan langsung seperti telogen effluvium.

    Ditandai dengan bercak botak melingkar, alopeia areata adalah penyakit autoimun yang tampaknya dapat diperburuk oleh stress. Namun, orang yang mengalami kerontokan rambut jenis ini memilki kecenderungan genetik terhadap kelainan tersebut.

    “Bagi sebagian orang, stress dapat menjadi pemicu alopecia areta yang sebenarnya merupakan kelainan dimana sistem kekebalan tubuh menjadi bingung dan menyerang folikel rambut sebagai benda asing. Hal ini menyebabkan peradangan pada folikel rambut dan rambut rontok berikutnya di tambalan melingkar di seluruh area kulit kepala,” jelas Annie.

    Dr. Craiglow menyatakan bahwa banyak orang dengna alopecia areata mengalami kerontokan rambut tanpa sumber stress yang jelas. Hal ini bisa menjadi banyak pemicu potensial untuk gangguan tersebut.

    Baca juga, 5 Tren Kecantikan di TikTok yang sebaiknya kamu hindari

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Latest Posts

    POPULAR