Telegram Jadi Opsi Teraman untuk Aplikasi Private Messaging

0
591

Dengan setengah miliar pengguna aktif dan tingkat pertumbuhan yang semakin cepat, Telegram semakin percaya diri untuk menyediakan platform yang aman bagi para penggunanya.

Saat ini, Telegram telah melampaui 500 juta pengguna aktif bulanan pada minggu pertama Januari dan angka ini akan terus bertambah. Dalam 72 jam terakhir per 12 Januari 2021, terdapat 25 juta pengguna baru bergabung dengan Telegram dari seluruh dunia.

Angka ini merupakan pengingkatan yang signifikan dari tahun lalu. Dimana hanya 1,5 juta pengguna baru yang mendaftar setiap harinya. Sepanjang 7 tahun beroperasi, Telegram telah mengalami beberapa lonjakan dalam jumlah unduhan, akan tetapi lonjakan kali ini adalah yang paling signifikan.

Telegram sendiri mengklaim bahwa platform mereka ini tidak memonetisasi data pribadi, berkomitmen dalam perlindungan data dan senantiasa menempatkan penggunanya sebagai priortias. Sejak peluncuran pada Agustus 2013, Telegram tidak pernah mengungkap satu byte pun dari data peribadi penggunanya kepada pihak ketiga.

Telegram menggunakan sistem dienkripsi. Dimana setiap obrolan di Telegram telah dienkripsi secara aman sejak aplikasi pertama diluncurkan. Hal ini berbeda dengan beberapa aplikasi private messaging lainnya yang hanya menggunakan protokol enkripsi umum.

Lebih lanjut, Telegram mendukung dua lapisan enkripsi yang aman. Aplikasi ini memiliki Secret Chats yang end-to-end dan Cloud Chats yang menawarkan penyimpan cloud yang aman dan terdistribusi secara real-time.

Enkripsi server-client Telegram digunakan pada Cloud Chats (obrolan pribadi dan grup), sementara bagi mereka yang membutuhkan privasi lebih, Secret Chats yang hanya dimiliki Telegram ini menggunakan lapisan tambahan enkripsi client-client yang tidak akan meninggalkan jejak di serverm mendukung pesan yang bisa dihapus secara otomatis dan tidak mengizinkan pesan untuk di-forward.

Selain itu, Secret Chats bukan bagian dari cloud telegram dan hanya diakses di perangkat asal. Ini berarti hanya pengguna dan penerima yang dapat membaca pesan tersebut, tidak ada pilihan lain yang dpaat menguraikannya, termasuk Telegram sendiri. Meskipun begitu, semua data, apapun jenisnya, dienkripsi dengan yang sama, baik itu teks, media atau file.

Enkripsi Telegram didasarkan pada enkripsi AES simetris 256-bit, enkripsi RSA 2048-bit, dan Diffie – Hellman yang mengamankan pertukaran kunci. Karenanya setelah koneksi end-to-end yang aman telah terjalin, Telegram akan menghasilkan gambar yang memvisualisasikan kunci  enkripsi untuk obrolan pengguna. Pengguna kemudian dapat membandingkan gambar yang ada  pada perangkatnya dengan gambar pada perangkat lawan bicara pengguna – jika kedua gambar  tersebut sama, maka dapat dipastikan bahwa koneksi aman, dan tidak akan ada serangan man in-the-middle

Kode Telegram adalah open source. Semua aplikasi Telegram telah menjadi open source sejak 2013, enkripsi dan API Telegram didokumentasikan sepenuhnya dan telah ditinjau ribuan kali oleh berbagai pakar keamanan. Selain itu, kode Telegram ini dapat diperiksa oleh siapapun.

Mereka telah mengonfirmasi bahwa aplikasi ini tidak melakukan apapun secara diam-diam. Namun, jika pengguna masih memiliki alasan untuk  mengkhawatirkan keamanan pribadi mereka, Telegram menyarankan untuk hanya menggunakan  Secret Chats untuk informasi sensitif, sebaiknya dengan mengatur self-destruct timer. Pengguna  juga dapa mengaktifkan verifikasi 2 Langkah dan menyiapkan kode sandi yang kuat untuk  mengunci aplikasi, fitur ini dapat ditemukan di setelan pengguna. 

Baca juga, WhatsApp Terbitkan FAQ Terkait Berbagi Data dengan Facebook 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here