Zenius: Sesi 20 menit belajar dan pembelajaran aktif, efektif untuk lulus UTBK

0
411
Zenius

Kali ini, Zenius melakukan survei terhadap perilaku belajar terhadap lebih dari 15.000 penggunanya yang dinyatakan lulus UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer) pada Juli 2020.

Zenius menemukan bahwa siswa yang menerapkan prinsip pembelajaran aktif dan metode belajar ‘spaced repetition’ atau pengulangan berjarak memiliki peluang lebih besar untuk lulus UTBK.

Secara umum, UTBK menguji keterampilan kognitif, penalaran kuantitatif, dan keterampilan berpikir kritis siswa. Artinya, pemahaman konseptual yang mendalam akan memainkan peran yang lebih besar dalam menentukan keberhasilan siswa daripada hafalan.

Namun demikian, banyak siswa di Indonesia saat ini yang memiliki tantangan dalam menaklukkan UTBK dan mengembangkan penguasaan mata pelajaran secara mendalam karena sebagian besar dari mereka masih menggunakan metode belajar pasif, di mana kebanyakan siswa hanya duduk dan mendengarkan pelajaran.

Siswa yang berhasil lulus UTBK cenderung melangkah lebih jauh dengan aktif melakukan sesuatu seperti berdiskusi dengan teman dari pada hanya membaca buku atau menghafal pelajaran, sebuah prinsip utama yang digunakan dalam pembelajaran aktif.

Pembelajaran aktif mengacu pada metode pembelajaran yang berfokus pada pengembangan keterampilan siswa melalui interaksi dan eksplorasi materi pembelajaran yang lebih tinggi.

Siswa yang secara efektif menerapkan metode pembelajaran aktif biasanya akan belajar dengan melakukan latihan, diskusi terbuka, mengajarkan teman temannya, atau lebih kompleks lagi, mempelajari studi kasus.

Dengan melibatkan diri dalam interaksi yang lebih berkualitas dengan materi pembelajaran mereka, siswa dapat memperkuat pemahaman dasar mereka dan mampu menghubungkan materi yang baru dipelajari dengan apa yang mereka dapat sebelumnya secara lebih mendalam, sehingga bisa mengembangkan kemampuan mereka untuk berpikir kritis.

Seperti yang dikatakan Rohan Monga, selaku CEO Zenius bahwa UTBK merupakan ujian keterampilan berpikir dan penguasaan konsep, sehingga penting bagi siswa untuk terlibat dalam pembelajaran aktif.

“Kami menemukan bahwa sekitar 80% dari 15.000 pengguna Zenius yang lulus UTBK Juli lalu telah menggunakan metode pembelajaran aktif. Rata-rata, masing-masing dari mereka juga menjawab sekitar 400 pertanyaan atau sekitar 13 pertanyaan per video konsep yang ada di Zenius. Hal ini menunjukkan jika metode pembelajaran aktif adalah hal penting untuk menentukan kesuksesan siswa,” ujarnya.

Rohan juga melanjutkan bahwa pihaknya juga menemukan siswa yang lulus UTBK akan menjawab soal-soal mulai dari soal dengan keterampilan berpikir tingkat rendah (lower-order thinking skills/LOTS) hingga soal yang lebih sulit dengan keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher-order thinking skills/HOTS).

“Untuk lebih membekali siswa dengan keterampilan nyata yang diperlukan untuk ujian, kami telah meningkatkan konten UTBK dalam aplikasi kami secara signifikan untuk merangsang kegiatan belajar yang lebih aktif. Bank soal kami memungkinkan siswa untuk memilih LOTS, HOTS, atau tryout dengan mudah,” pungkas Rohan.

Penerapan prinsip pembelajaran aktif juga sejalan dengan artikel berjudul “The Neuroscience of Active Learning” oleh Claire Hoogendoorn 2 dari New York City College of Technology.

Hoogendoorn berpendapat bahwa memecahkan masalah secara aktif membantu siswa untuk mengaktifkan bagian otak yang terlibat dalam fungsi eksekutif (misalnya korteks prefrontal) yang tidak bekerja optimal dalam pembelajaran pasif.

Artikel tersebut juga menyebutkan bahwa siswa yang secara aktif mencari cara untuk melakukan pendekatan dari berbagai sudut untuk suatu topik akan dapat mengintegrasikan pengetahuan dengan mengaktifkan berbagai proses otak yang saling berhubungan.

Berdasarkan temuan Zenius, para siswa yang berhasil dalam ujian UTBK juga menerapkan metode ‘spaced repetition’ atau pengulangan berjarak, di mana mereka cenderung belajar dalam waktu yang singkat pada setiap sesi daripada memaksakan diri untuk belajar berjam-jam.

Temuan ini juga didukung oleh studi Cornell University yang menemukan bahwa rentang perhatian siswa berkurang setelah belajar selama 15-20 menit. Artinya, semakin lama siswa belajar di setiap sesi, fokus mereka akan mudah terpecah dan mereka mudah lelah, sehingga efisiensi belajar mereka akan berkurang.

“Periode waktu belajar yang tetap akan membuat siswa untuk melakukan lebih banyak hal dalam periode yang lebih singkat dan dengan tambahan waktu istirahat setelah sesi belajar selama 20 menit, siswa akan dapat menjaga otak mereka tetap segar dan siap untuk menghadapi lebih banyak tantangan dan meningkatkan kemampuan mengingat,” lanjut Rohan.

Metode ‘spaced repetition’ adalah strategi manajemen waktu yang mendorong pembelajaran yang singkat dan kuat dengan jeda yang cukup alih-alih belajar di sesi 3-4 jam yang panjang.

Zenius juga menemukan bahwa siswa yang menerapkan metode belajar serupa, di mana mereka belajar selama kurang lebih 20 menit selama dua kali sehari selama tiga kali seminggu, memiliki peluang lebih besar untuk lolos UTBK.

Sementara itu, Honorary Research Associate dari Universitas Oxford, Paul Kelley, juga menemukan hal serupa dalam penelitiannya tahun 2016.

Dia menemukan bahwa metode belajar ‘spaced repetition’, di mana siswa belajar dalam periode singkat yang intens dan diselingi dengan istirahat selama 10 menit dalam satu sesi pembelajaran selama 60 menit, mampu meningkatkan kinerja mereka. Mereka bahkan memiliki prestasi lebih baik daripada siswa yang belajar sendiri atau siswa yang mengikuti pembelajaran tradisional di kelas dengan durasi lebih panjang.

“Ini adalah temuan yang memperkuat metode pembelajaran yang telah kami kembangkan dan kurasi selama 16 tahun terakhir. Namun untuk lolos UTBK, kedua metode ini tidak bisa berdiri sendiri. Siswa harus menikmati proses belajar dan harus memahami apa yang mereka pelajari,” tutup Rohan.

Baca juga, Zenius lakukan pemberdayaan guru-guru lewat program “Zenius untuk Guru”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here