Penelitian dari Facebook Ungkap 52 Persen Perempuan di Dunia Belum Menggunakan Internet

0
104

Bersamaan dengan Hari Perempuan Internasional 2021, Facebook merilis penelitian baru terkait kesetaraan gender di rumah dan tempat kerja selama COVID-19. Untuk melakukan penelitian ini, Facebook bekerja sama dengan World Bank Group, UN Women, LadySmith Collective dan EqualMeasures2030.

Penelitian ini diikuti oleh 46.000 orang dari 200 negara, perempuan dan laki-laki. Melalui penelitian ini, Facebook ingin menemukan akses yang dimiliki perempuan dan laki-laki terhadap sumber daya, waktu yang mereka habiskan untuk pekerjaan tanpa upah dan pekerjaan rumah tangga sebagai akibat dari COVID-19.

Salah satu yang berhasil ditemukan ialah masalah akses internet. Saat ini, hampir 52% perempuan di seluruh dunia masih belum menggunakan internet. Secara rata-rata, perempuan lebih kecil kemungkinannya untuk memiliki ponsel dibandingkan dengan pria (14%) dan 43% lebih kecil kemungkinannya untuk berinteraksi secara online.

“Hal ini sangat disayangkan mengingat perempuan memanfaatkan pendidikan digital dengan efek yang lebih besar daripada pria,” ujar Dessy Sukendar, Manager Program-program Kebijakan untuk Facebook Indonesia pada sebuah keterangan yang dirilis hari ini (8/3).

Pada sebuah studi, menunjukkan bahwa ketika pria dan wanita memiliki tingkat kefasihan digital yang sama, maka wanita berhasil mencapai tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Tak hanya itu, melalui penelitian ini, banyak kekhawatiran yang dirasakan oleh perempuan selama pandemi COVID-19. Alasannya adalah perempuan seringkali mendapat gaji lebih sedikit dibandingkan laki-laki, sehingga mereka harus bergantung dengan orang lain secara finansial.

Lebih lanjut, perempuan menyatakan bahwa mereka menghabiskan lebih banyak waktu untuk pekerjaan tanpa upah dan pekerjaan rumah tangga akibat COVID-19.

Berbagai kekhawatiran ini dikonfirmasi oleh studi Future of Business Facebook dengan Bank Dunia dan OECD yang menunjukkan bahwa UKM yang dimiliki perempuan lebih cenderung ditutup karena COVID-19.

Bahkan dengan mepertimbangkan faktor-faktor seperti skala bisnis, sektor bisnis yang mereka geluti dan letak geografis. Studi tersebut menegaskan bahwa perempuan lebih banyak memilkul beban tanggung jawab rumah tangga yang lebih besar.

Di Asia Timur dan Pasifik, 20% dari perempuan yang melakukan wirausaha mengatakan bahwa mereka menghabiskan enam jam atau lebih setiap harinya untuk memikul tanggung jawab rumah tangga. Dibandingkan dengan laki-laki hanya meraih angka 12%.

“Dalam penelitian yang kami adakan, kami menemukan bahwa perempuan wirausaha menunjukkan tingkat fleksibilitas yang lebih tinggi terhadap model bisnis merek adalam merespon situasi COVID-19. Faktanya, mereka cenderung mnedapatkan 50% hasil penjualan mereka melalui saluran digital,” ujar Dessy.

Sementara itu, berdasarkan mayoritas orang yang berpartisipasi dalam penelitian ini – termasuk pria – setuju bahwa perempuan dan pria harus memiliki kesempatan yang sama. Yakni, dalam bidang pendidikan dan pengambilan keputusan dalam rumah tangga.

Studi lain juga telah mengonfirmasi bahwa baik pria maupun perempuan berharap dunia digital akan memberdayakan putri mereka. Kefasihan dan konektivitas digital juga dapat mengurangi halayang yang menghentikan perempuan untuk kembali mengejar karir atau memulai bisnis.

Dengan adanya kesempatan bekerja dari rumah dan mengatur jam kerja sendiri, memungkinkan banyak perempuan yang dapat bergabung dalam dunia kerja.

Sejak pandemi COVID-19 merebak, Facebook juga merilis survei bertajuk The Future of Business, berkolaborasi dengan OECD dan Bank Dunia untuk melihat bagaimana berkolaborasi dengan OECD dan Bank Dunia untuk melihat bagaimana dampak COVID-19 terhadap operasional bisnis para pelaku usaha yang ada di atas platform Facebook.

Penelitian ini dilkaukan pada periode Mei-Oktober 2020. Salah satu hasilnya menunjukkan, 91% bisnis kecil dan menengah yang dimiliki oleh perempuan yang berada di Facebook pada Oktober silam (dibandingkan 89% bisnis kecil dan menengah yang dimiliki oleh pria).

Penelitian tersebut melaporkan bahwa mereka terlibat dalam aktivitas yang mampu menghasilkan pemasukkan.

Jelas bahwa pemberdayaan ekonomi inklusif yang berinvestasi dalam program literasi digital dan meningkatkan konektivitas bagi perempuan dapat membuka potensi merkea untuk generasi mendatang.

Berdasarkan hasil pengamatan Facebook, menyatakan  bahwa setiap harinya semakin banyak orang yang menggunakan Facebook, Instagram dan WhatsApp untuk terhubung dengan hal-hal yang penting dan bermakna untuk mereka.

“Saat orang-orang terkoneksi dan menjalin kebersamaan, kami percaya mereka dapat mencapai dan menciptakan hal-hal yang luar biasa. Karena itu kami akan terus menyediakan tools dan features yang memungkinkan hal tersebut, membangun komunitas, menciptakan dampak ekonomi dan tentunya mendorong semakin banyak hal positif bagi orang -orang Indonesia,” ujar Dessy.

Facebook sendiri menginisiasi program #SheMeansBusiness pada tahun 2016. Yakni, sebuah komitmen jangka panjang untuk mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan dengan menyediakan pelatihan keterampilan digital dan kesempatan untuk memperdalam dan memperluas koneksi serta jaringan bisnis mereka.

Program ini sejalan dengan tema Hari Perempuan Indonesia tahun ini, yaitu Choose to Challange. Tema ini mengajak kita untuk menantang dan melawan bias gender dan ketidakadilan.

“Tahun ini, di tahun kelima program ini berjalan, kami sepenuhnya sadar bahwa semua prestasi yang diraih dalam beberapa tahun terakhir dapat dengan mudah hilang oleh pandemi,” ujar Dessy. 

Baca juga, Lazada Apresiasi Seller Perempuan Melalui Forward Women Awards

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here