Peran Fintech Dalam Pertumbuhan Ekonomi Digital Indonesia

0
92
Fintech
Foto: Unsplash/Firmbee-com

Fintech dinyatakan memiliki peran besar dalam pertumbuhan ekonomi. Di Indonesia sendiri, fintech diharapkan dapat turut mendorong kemajuan perekonomian di Indonesia.

Harapan tersebut dinyatakan oleh Presiden Joko Widodo. Bahkan, ia berharap bahwa keberadaan fintech ini akan mendorong Indonesia menjadi negara dengan ekonomi terbesar ke-7 di dunia tahun 2030.

Kemarin (10/11), Forum Wartawan Teknologi (FORWAT) menggelar diskusi bertajuk ‘Peran Fintech Dorong Ekonomi Digital Indonesia’. Dimana Fintech diprediksi dapat memberi percepatan pemulihan ekonomi.

Menurut hasil riset CEIC, Indonesia menjadi negara kedua terbesar di kawasan Asia Tenggara dengan perputaran uang kartal dan giral dengan nilau US$1,5 triliun pada tahun 2020. Di posisi puncak ada Singapura yang memiliki perputaran uang sebesar US$2,3 triliun pada periode yang sama.

Perputaran uang itu dilakukan dengan berbagai bentuk transaksi antara lain bank tradisional, uang tunai, pemerintah, perusahaan fintech, e-money, serta digital bank. 

Dalam diskusi tersebut, Bhima Yudhistira, selaku Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), maraknya fintech saat ini dikarenakan massifnya transaksi non tunai. Ketika transaksi tersebut semakin umum bagi kalangan masyarakat, maka akan muncul banyaknya bisnis di industri tersebut.

Fintech
Foto: FORWAT

“Jadi semakin cashless akan terjadi efisiensi dan terus muncul bisnis-bisnis digital. Ini akan menciptkaan tenaga kerja yang lebih besar lagi dan tentunya mendorong ekonomi Indonesia,” kata Bhima saat diskusi virtual bertajuk ‘Peran Fintech Dorong Ekonomi Digital Indonesia’ yang digelar Forum Wartawan Teknologi (FORWAT), Rabu (10/11/2021).

OY! Indonesia merupakan salah satu pemain dalam industri fintech. Didirikan pada tahun 2017, perusahaan tersebut menyediakan layanan money movement yang memfasilitasi semua proses keuangan.

Mulai dari kebutuhan sehari-hari individu hingga kebutuhan bisnis di antara beberapa institusi. Seperti, berbagai bank komersial, bank digital, P2P Lending, e-money dan perusahaan fintech lainnya. Menariknya, OY! Indonesia merupakan startup fintech yang memadukan antara sistem online dengan offline. 

“Indonesia itu unik sebagai salah satu negara dengan perputaran uang yang sangat besar. Perputaran uangnya itu lewat beragam media. Ada yang digital dan ada pula yang cash. Kami melayani transaksi keduanya. Boleh dibilang, kami adalah aggregator dari sumber keuangan,” kata Chief Executive Officer (CEO) OY! Indonesia, Jesayas Ferdinandus.

Menurut Jesayas, alasan pihaknya membantu menghadirkan layanan tersebut adalah banyaknya UMKM yang masih melakukan transaksi dengan cash. Meskipun, semakin banyak pula yang sudah mulai menjual barang secara online.

Hal tersebut berdasarkan data yang dimiliki, yakni sebanyak 85 persen transaksi di Indonesia masih menggunakan cash.

“UMKM itu walaupun mencoba jualan online, transaksi mereka masih banyak yang cash. Kami ingin support mereka. Oleh sebab itu, kami tidak hanya memberikan layanan untuk sistem online saja,” jelasnya. 

Di OY! Indonesia sendiri, ada teknologi pengelolaan money movement yang dapat digunakan. Salah satunya dalah KoinWorks.

KoinWorks sendiri adalah platform peer to peer (P2P) lending yang banyak menjaring segmen pelaku usaha. Jonathan Bryan, Chief Marketing Officer KoinWorks menyatakan keberadaan OY! Indonesia sangat membantu dalam pengelolaan keuangan. 

“Mungkin bisa dibayangkan, kita punya 1 juta customer. Kita harus transfer yang nominalnya tidak hanya Rp10 juta saja, bisa lebih dari itu. Atau untuk pengembalian kepada costumer. Bayangin kalau transaksi itu harus dilakukan tim finance kita. Itu imposible. Dengan teknologi yang dipunya OY! Indonesia kita tak perlu approval dari atasan,” jelasnya. 

Sementara, Bhima memnanggap keberadaan platform OY! Indonesia ini mampu memberi efisiensi pada industri fintech ditengah ramainya pelaku teknologi finansial. Dengan demikian, diperlukan kolaborasi antara perusahaan fintech. Jika tidak, akan sulit untuk bertahan di industri yang massif ini. 

Bila dilihat dari produk dan layanan yang ditawarkan OY! Indonesia, mereka mampu membantu mengelola transaksi yang terjadi dalam sebuah bisnis mulai dari hulu sampai dengan hilir. Mulai dari payroll, pengiriman uang, pembayaran invoice, uang masuk, cash management (digital money movement). Bahkan OY! Indonesia memiliki cash in transit di 10 kota di Republik ini serta penyediaan mesin ATM (offline money movement). 

Pengelolaan transaksi bisnis baik offline maupun online secara tidak langsung akan membuat perusahaan lebih fokus kepada pengembangan bisnis tanpa harus memikirkan proses transaksi yang rumit. 

Baca juga: Pentingnya Identitas Digital yang Aman untuk Tingkatkan Kepercayaan Fintech

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here