Survei Menyatakan Penipuan Belanja Online E-Commerce Paling Marak Terjadi di Indonesia

0
127
Penipuan Belanja Online

Survei dari ESET menyatakan bahwa penipuan belanja online E-Commerce di Indonesia paling marak terjadi. Belum termasuk dengan kebocoran-kebocoran data dari situs E-commerce turut mengecam kenyamanan konsumen saat berbelanja.

Besarnya minat berbelanja online di Indonesia sejalan dengan penipuan yang marak terjadi. Menurut hasil investigasi dari Interpol dalam ASEAN Cyberthreat Assesment 2021, penipuan online menjadi kategori kasus terbesar kedua di Indonesia yang dilaporkan oleh Bareskrim Polri.

Laporan dari penipuan tersebut belum termasuk dengan kebocoran data dari situs-situes e-commerce yang semakin mengecam kenyamanan konsumen saat berbelanja.

Penipuan Belanja Online

Menuirut Yudhi Kukuh, peningkatan aktivitas e-commerce telah menyebabkan banyak scammers yang menyerang. Konsumen perlu menjaga data mereka karena penjahat di dunia maya terus menggunakan metode yang canggih untuk menembus sistem pengguna dan mencuri uang.

Dalam survei terbarunya di Asia Pasific, ESET menunjukkan seberapa besar ancaman saat berbelanja online di e-commerce. Mereka juga menemukan beberapa fakta menarik.

Salah satunya adalah tiga dari empat (59%) responden yang melakukan survei di Indonesia menunjukkan bahwa mereka pernah menemukan kegiatan yang berpotensi penipuan online.

Kemudian fakta lain yang ditemukan dalam survei ini menyebutkan 67% di APAC ditemukan berbagai penipuan online dalam 12 bulan terakhir. Dengan jenis yang paling umum adalah penipuan belanja di e-commerce (21%), media sosial (18%) dan penipuan investasi (15%).

Sementara di Indonesia jenis penipuan yang paling umum adalah belanja e-commerce (19%), media sosial (16%), dan investasi online (9%). Dengan hampir setengahnya mengatakan mereka berbelanja setidaknya sebulan sekali, sangat penting bagi konsumen untuk tetap waspada saat melakukan transaksi online.  

Usaha Online

Selain itu, lebih dari 85% responden di Indonesia mempercayai sepenuhnya langkah-langkah keamanan oleh pengecer online. 14% bahkan juga menunjukkan bahwa mereka akan terus berbelanja di pengecer online bahkan setelah pelanggaran data, terlepas dari status keamanan sesudahnya.

Sedangkan dari survei APAC secara keseluruhan, mereka yang menjadi korban penipuan belanja di e-commerce, 32% mengatakan itu melibatkan gadget seperti kamera, sementara 27% mengatakan terkait dengan pakaian. Yang lebih mengkhawatirkan, survei tersebut juga mengungkapkan bahwa sekitar 15% responden akan terus berbelanja dengan pengecer online yang sama meskipun mereka telah mengalami pelanggaran online, terlepas dari apakah perlindungan tambahan telah diterapkan. 

Untuk melindungi diri dari penipuan, konsumen harus berhati-hati saat berbelanja di e-commerce. Untungnya, lebih dari 91% responden yang disurvei mengambil beberapa bentuk tindakan pencegahan saat berbelanja di e-commerce, dengan memeriksa ulasan produk/penjual menjadi metode paling populer untuk menilai legitimasi pengecer.

Baca juga: Viral! Bocah Tak Segaja Belanja Online Hingga Rp 16 Juta Pakai Sistem COD

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here