Cara East Ventures Dukung Wanita di Dunia Teknologi

0
34
tips untuk perempuan
Panelis dari program Women with Impact yang diadakan pada 16 August 2022, di SKYE, Jakarta *kiri ke kanan*: Nicha Suebwonglee, Venture Capital Business Development Manager, ASEAN, Amazon Web Services (AWS); Veronica Colondam, Founder dan CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation dan YCAB Ventures; Tessa Wijaya, Co-Founder & COO Xendit; Avina Sugiarto, Partner East Ventures

Gadgetdiva.id — East Venture, perusahaan pendanaan idola startup, menyadari tidak semua wanita di dunia teknologi bisa bergabung, mereka pun mendukung lebih banyak wanita di dunia teknologi.

Sebuah studi tahun 2020 yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) menunjukkan bahwa industri teknologi Asia Tenggara cukup beragam, dengan 32% perempuan dari tenaga kerja sektor teknologi. Namun, bukan rahasia lagi bahwa hanya sebagian kecil startup di kawasan ini yang memiliki founder perempuan.

Selain itu, perusahaan think tank fintech global, Findexable, mengungkapkan bahwa hanya satu persen founder perempuan di industri fintech yang menerima pendanaan secara global pada tahun 2021.

Menurut studi BCG, lebih dari 50% lulusan Indonesia adalah perempuan, tetapi hanya 32% dari tenaga kerja adalah perempuan. Selain itu, di tingkat manajemen senior dan CEO atau dewan, hanya 18% dan 15% adalah perempuan. Oleh karena itu, ia mendorong perempuan untuk saling mendukung, termasuk mendapatkan dukungan dari laki-laki.

Wanita di Dunia Teknologi

Sebagai founder perempuan pertama dalam membangun fintech unicorn di Indonesia, Tessa Wijaya, Co-Founder & COO Xendit, berbagi pengalaman dan perspektifnya tentang perjuangan dan pembelajaran membangun startup dari awal. Sebagai seorang founder perempuan, ia menyadari bahwa sangat sulit untuk membangun network untuk mengembangkan bisnisnya pada saat itu. Memiliki network sangat penting dalam membantu para founder untuk memahami hal sederhana seperti membuat deck, pitching, penggalangan dana, atau memperluas bisnis. Dia menemukan bahwa founder perempuan terkadang merasa tertinggal dibandingkan dengan founder laki-laki, karena tidak ada platform untuk memfasilitasi founder perempuan untuk berbagi dan belajar dari satu sama lain.

Tessa juga menyebutkan bahwa mendapatkan bimbingan juga menjadi tantangan lain, karena hanya ada beberapa pemimpin wanita yang dapat dihubungi untuk menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan penggalangan dana, pitch deck, dan valuasi perusahaan. “Kekuatan network sangat penting. Tanpa dukungan sesama wanita, saya tidak dapat saling berkolaborasi dan memiliki kemampuan untuk mengembangkan bisnis,” kata Tessa.

Sementara itu, Veronica Colondam, Pendiri dan CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation dan YCAB Ventures setuju bahwa network dan dukungan dari rekan penting untuk perkembangan para founder perempuan, dan membantu mereka mengembangkan bisnis. Oleh karena itu, ia terus aktif membuat inisiatif yang berdampak untuk membantu pengusaha perempuan di Indonesia selama 25 tahun terakhir. Dia mengikuti panggilannya untuk mendirikan yayasan YCAB dan YCAB Ventures, bergabung sebagai anggota dewan di program mentorship – Asian Venture Philanthropy Network (AVPN), dan Komisaris Independen di perusahaan keuangan mikro milik negara (Permodalan Nasional Madani – PNM) terbesar, dengan fokus pada investasi ultra mikro dan perempuan.

“Perempuan dan dampak hanyalah istilah antara dua dunia, sektor dampak dan sektor keuangan. Artinya jika apa yang Anda lakukan berdampak, maka hal tersebut merupakan hal yang hebat, itulah tujuan Anda. Tapi ingat dampaknya bagi umat manusia yang paling kecil, bagi semua orang hingga ke garis terbawah. Di dasar piramida. Apa yang dapat Anda lakukan melalui bisnis Anda untuk benar- benar meningkatkan kesejahteraan mereka,” kata Veronica.

Dalam topik yang sama, Nicha Suebwonglee, Venture Capital Business Development Manager, ASEAN, Amazon Web Services (AWS), memiliki pengalaman serupa ketika menjadi Co-Founder di startup OTT yang berbasis di Bangkok beberapa tahun lalu. Dia merasa sangat sulit untuk mendapatkan dukungan, namun situasi tersebut tidak membuatnya merasa rendah diri. Dari seluruh pengalamannya, dia belajar bahwa sebagai seorang wanita, ada kalanya kita merasa ragu untuk mengutarakan pikiran, yang mengakibatkan kerugian.

Dari sudut pandang investor, Avina Sugiarto, Partner East Ventures, menuturkan bahwa merupakan hal yang langka bagi perempuan untuk menjadi investor pada masa awal karirnya. Namun, dia percaya bahwa kondisinya kini jauh lebih baik walaupun masih membutuhkan banyak upaya untuk membuat kemajuan.

Berkaca pada statistik, Avina menyebutkan bahwa saat ini 25% dari portofolio aktif East Ventures memiliki setidaknya satu founder perempuan. Dia percaya bahwa East Ventures akan terus mendukung pemberdayaan perempuan dan berkontribusi untuk mengurangi ketidaksetaraan gender dan meningkatkan keragaman dalam industri teknologi melalui platform “Women With Impact” untuk memfasilitasi dan mendorong terciptanya hubungan yang bermakna antara investor dan founder.

“Melalui Women with Impact, kami memiliki tiga tujuan, yakni ingin menciptakan tempat kerja yang lebih inklusif dan beragam di mana perempuan dapat bekerja dengan nyaman dan tidak menghadapi bias gender. Kami juga ingin meningkatkan networking funnel dengan founder dan investor wanita. Terakhir, kami ingin mendorong lebih banyak perempuan untuk naik tangga itu. Dengan inisiatif ini, kami ingin mendorong lebih banyak perempuan sehingga kami dapat tetap bekerja, naik level, dan menjadi kekuatan pengambilan keputusan di negara ini,” kata Avina.

Hal ini sejalan dengan beberapa temuan dari survei dan data global. PBB menyatakan bahwa berinvestasi pada wanita juga akan meningkatkan PDB negara, kinerja bisnis yang lebih baik, dan membantu pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030, termasuk tujuan sosial dan lingkungan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini