Monday, 14 June 2021
More

    Latest Posts


    Accenture technology vision 2020: 5 tren utama perusahaan teknologi

    Menurut Accenture Technology Vision 2020, untuk bersaing dan mencapai kesuksesan dalam dunia yang serba digital, perusahaan-perusahaan perlu menetapkan fokus baru untuk mengimbangi “nilai” yang selalu dikejar dalam persaingan.

    Laporan tahunan Accenture (NYSE: ACN) edisi ke-20 ini memprediksi tren teknologi utama yang akan menata ulang bisnis-bisnis selama tiga tahun ke depan. Menurut laporan “Kita, Manusia di Era Pasca Digital: Dapatkah perusahaan Anda bertahan melewati bentrokan teknologi (tech-clash)?”, meskipun teknologi semakin melekat ke dalam kehidupan manusia, upaya organisasi-organisasi untuk memenuhi kebutuhan dan harapan masyarakat masih bisa menemui kegagalan.

    Seharusnya penyebutannya menjadi tech-clash yang merupakan bentrokan antara model bisnis dan teknologi yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Dari survei yang dilakukan Accenture untuk laporan Technology Vision terhadap lebih dari 6.000 eksekutif bisnis dan TI di seluruh dunia, 83% mengakui bahwa teknologi telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari pengalaman manusia.

    “Bahkan di Indonesia, 97% eksekutif setuju akan pentingnya hubungan tersebut, karena terpesona oleh janji teknologi, banyak organisasi menciptakan produk dan layanan digital semata-mata karena mereka bisa melakukannya, tanpa sepenuhnya mempertimbangkan konsekuensi manusia, organisasi, dan sosial,” kata Indra Permana, Technology Delivery Lead, Accenture di Indonesia.

    Menurut laporan Technology Vision, penggunaan model yang ada saat ini, tanpa memikirkan perlunya inovasi, tidak hanya berisiko mengganggu pelanggan atau memutus keterlibatan karyawan, tetapi juga bisa secara permanen membatasi potensi pembaharuan dan pertumbuhan di masa depan.

    Namun demikian, tech-clash adalah tantangan yang bisa diatasi. Technology Vision mengidentifikasi lima tren utama yang harus dipertimbangkan oleh perusahaan-perusahaan selama tiga tahun ke depan untuk meredakan bentrokan teknologi dan mewujudkan bentuk-bentuk nilai bisnis baru yang sebagian didorong oleh hubungan yang kuat dan saling percaya dengan para pemangku kepentingan:

    Pentingnya Personalisasi Pengalaman

    Organisasi-organisasi perlu merancang personalisasi pengalaman yang memperkuat kegiatan dan pilihan seseorang. Hal ini dapat mengubah para pengguna yang pasif menjadi aktif dengan transformasi pengalaman pengalaman satu arah, yang dapat membuat orang merasa tidak memiliki kendali atas pilihan yang ada dan tidak terlibat menjadi sebuah kolaborasi yang sebenarnya.

    Lima dari enam eksekutif bisnis dan TI yang disurvei (85%), di Indonesia (92%), percaya bahwa kesuksesan persaingan dalam dekade baru ini menuntut organisasi-organisasi untuk meningkatkan hubungannya dengan para pelanggan, menjadikan mereka sebagai mitra.

    Kecerdasan AI

    Kecerdasan Buatan (AI) harus memberikan kontribusi pada cara manusia melakukan pekerjaan mereka, bukan hanya menjadi pendukung otomatisasi. Sejalan dengan tumbuhnya kemampuan AI, perusahaan-perusahaan harus memikirkan kembali pekerjaan yang mereka lakukan untuk menjadikan AI sebagai bagian generatif dari proses kerja tersebut, dengan kepercayaan dan transparansi sebagai intinya.

    Saat ini, hanya 37% organisasi, 47% di Indonesia, yang melaporkan penggunaan desain inklusif atau prinsip desain yang berpusat pada manusia untuk mendukung kolaborasi antara manusia dan mesin.

    Dilema Kecerdasan

    Asumsi-asumsi tentang siapa yang merupakan pemilik dari suatu produk sedang ditantang di dunia yang memasuki situasi “stagnan dalam tahap beta.” Sewaktu perusahaan-perusahaan berusaha memperkenalkan generasi produk baru yang digerakkan oleh pengalaman digital, penanganan untuk hal baru ini menjadi sangat penting dalam mendukung kesuksesan.

    Hampir tiga perempat (74%) eksekutif, sedang di Indonesia 82%, melaporkan bahwa produk dan layanan yang terhubung dengan organisasi mereka akan memiliki pembaharuan dalam jumlah yang lebih banyak atau jauh lebih banyak selama tiga tahun ke depan.

    Robot di Alam Terbuka

    Robotika tidak lagi terkurung di dalam gudang atau pabrik. Dengan 5G yang siap untuk secara signifikan mempercepat pertumbuhan tren, setiap perusahaan harus memikirkan kembali masa depannya melalui lensa robotika.

    Pandangan eksekutif tentang bagaimana karyawan mer eka akan merangkul robotika terpecah: 45% mengatakan bahwa karyawan mereka akan merasa tertantang dalam mencari cara untuk bekerja sama dengan robot, sementara 55% meyakini bahwa karyawan mereka akan dengan mudah menemukan cara untuk bekerja sama dengan robot. Di Indonesia berbeda, karena (82%) yakin bahwa industri mereka membutuhkan robot di alam terbuka.

    DNA Inovasi

    Perusahaan-perusahaan memiliki akses ke sejumlah besar teknologi disruptif yang belum pernah ada sebelumnya, seperti buku besar terdistribusi (distributed ledger), AI, extended reality, dan komputasi kuantum. Untuk mengelola semuanya, organisasi-organisasi perlu membuat DNA inovasi unik mereka sendiri sambil berkembang dengan kecepatan yang dituntut oleh pasar saat ini.

    Tiga perempat (76%), di Indonesia 83%, eksekutif percaya bahwa kebutuhan untuk inovasi belum pernah setinggi ini. Oleh karena itu, untuk melakukannya dengan benar, dibutuhkan cara-cara baru untuk berinovasi dengan mitra ekosistem dan organisasi dari pihak ketiga.

    Fyi, selama 20 tahun, Accenture telah melihat seluruh lanskap perusahaan secara sistematis untuk mengidentifikasi kemunculan tren-tren teknologi yang memiliki potensi terbesar untuk mengganggu bisnis dan industri.

    Baca juga, #AmanBersamaGojek: Gojek tingkatkan edukasi, teknologi dan proteksi

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Latest Posts

    POPULAR