Sunday, 11 April 2021
More

    Latest Posts


    Dokter WNI di AS sebut obat Covid-19 kemungkinan tersedia bulan depan: Remdesivir & Chloroquine

    Obat Covid19 Remdesivir dan Hydroxy Chloroquine diklaim tinggal menunggu approval FDA. Hasilnya diketahui cukup menjanjikan dan bisa digunakan dalam waktu dekat.

    Temuan dua obat Covid19 Remdesivir dan Chloroquine ini menjadi kabar baik dan menggembirakan di tengah pandemi Covid-19 yang menginfeksi lebih dari 2 juta jiwa di 190 negara dan kematian hingga ratusan ribu jiwa.

    Dokter Ahli Farmakologi sekaligus member American Collage of Clinical Pharmacology, Profesor Taruna Ikrar, mengungkapkan jumlah infeksi Covid-19 di Amerika Serikat mencapai lebih dari 700 ribu jiwa dan kematian menembus 40 ribu jiwa. Namun Amerika Serikat telah menguji klinis dua obat penyembuh tersebut dan hasilnya tinggal menunggu persetujuan dari FDA.

    “Hasilnya sudah positif, segera akan disahkan oleh FDA. Menurut Gedung Putih akan dipercepat Expedite Process. Kemungkinan bulan depan (diproduksi massal),” ujar Profesor Taruna Ikrar, yang merupakan salah satu tim di California Medical Center, saat dihubungi Gadgetdiva, Senin, 20 April 2020.
    Baca juga: Benarkah COVID-19 bisa menular lewat baju? Ini jawabannya

    obat covid19 remdesivir
    Profesor Taruna Ikrar

    Uji coba obat Covid19 Remdisivir

    Taruna menyampaikan, 2.400 pasien Covid-19 dengan kasus parah di Negeri Paman Sam ini telah diobati dengan Remdesivir sebagai bahan uji coba (uji klinis) melawan Covid-19.

    Selain itu, Remdesivir juga sedang diuji coba obat pada 1.600 pasien dengan gejala sedang di 169 rumah sakit dan klinik di seluruh dunia.

    “Hasil uji klinis obat Remdesivir ini memberikan hasil yang menakjubkan, yang mana gambaran pasien yang awalnya masuk dengan kondisi yang parah dan kritis, dapat pulih dengan cepat, bahkan setelah beberapa hari dirawat sebagian besar dizinkan pulang ke rumah karena telah dianggap telah sehat,” tulis Taruna dalam rilisnya kepada Gadgetdiva.id.

    https://www.instagram.com/p/B_MIQ2BBMMy/?utm_source=ig_web_copy_link

     

    Sebagian besar pasien yang dilakukan uji klinis obat remdisivir ini, memiliki gejala pernapasan dan demam yang parah, tetapi dapat berakhir sembuh.

    “Remdesivir ini obat cukup yang menjanjikan karena mampu memotong mata rantai replikasi virus baru, sehngga virus baru tidak bisa mereproduksi. Uji klinis terhadap 6 ribu pasien di rumah sakit Amerika Serikat atau di tempatlainnya, ada tiga hasil mengembirakan yang memperbaiki kondisi klinis pasien,” ujarnya.

    Pertama, pasien yang masuk dalam kondisi sangat fatal dan lemah terbukti mengalami perbaikan signifikan. Kedua, kondisi gejala klinis lainnya dari pasien juga mengalami perbaikan, misalnya gejala demam, batuk mengalami penurunan.

    Ketiga, pengamatan hasil darah pasien menunjukkan hasil signifikan setelah diobati dengan Remdesivir. Berdasarkan autopsi darah pasien Covid-19, ternyata merekagangguan pernapasan, pembuluh darah alami penyemimpitan dan pelebaran dan berujung pada perpecahan pembuluh darah, serta terjadinya pembekuan darah.

    “Ketiga faktor itu bisa direduksi dengan Remsidivir,” jelas Taruna.

    Obat Covid19 Remdesivir aslinya untuk Ebola

    Sebenarnya, Remdesivir merupakan antivirus untuk Ebola tetapi beberapa penelitian pada hewan menunjukkan obat itu dapat mencegah dan mengobati virus corona yang terkait dengan Covid-19, termasuk SARS dan MERS, dua sepupu Covid-19. Sehinga Remdesivir menunjukkan obat dengan potensi terbaik untuk Covid-19.

    Dalam laporannya, Gilead sebagai sponsor penelitian ini, menjelaskan sebagian besar pasien Covid-19 yang parah, dalam pengobatan selama 6-10 hari kebanyakan dari mereka akan sembuh.

    Walaupun dalam penelitian ini memiliki keterbatasan, karena uji coba tidak memasukkan apa yang dikenal sebagai kelompok kontrol, sehingga akan sulit untuk mengatakan apakah obat tersebut benar-benar membantu pasien pulih lebih baik.

    Dengan kelompok kontrol, beberapa pasien tidak menerima obat yang sedang diuji sehingga dokter dapat menentukan apakah obat itu benar-benar mempengaruhi kondisi mereka.

    “Karena ini akan menjadi kebutuhan mendesak untuk pengobatan Covid-19 di seluruh dunia. Semoga saja hasilnya konsisten sehingga bisa ditetapkan sebagai obat utama dalam pengobatan penyakit Covid-19,” jelas Taruna.

    Hydroxy Chloroquine

    Selain Remdisivir, Amerika Serikat sukses menguji Hydroxy Chloroquine (obat anti malaria) sebagai obat penyembuh Covid-19.

    “Ini punya efek signifikan karena bekerja pada sel darah merah. Kita ketahui sel darah merah itu mengangkut oksigen. Pasien alami kekurangan oksigen bisa mengalami perbaikan dengan Hydroxy ini,” jelas Taruna.

    Namun obat antimalaria ini punya kelemahan alias efek sampingnya lho.

    “Hanya saja Hydroxy ada efek samping yaitu penurunan gula darah. Oleh karena itu diberikan dalam pemberian yang terbatas, jangan waktu yang lama,” katanya.

    Taruna menuturkan uji kkinis dan uji coba dari dua obat itu bisa menjadi inspirasi bagi ilmuwan Indonesia untuk menemukan resep yang pas bagi pasien Covid-19 di Indonesia.

    “Uji dua obat ini beri inpirasi bagi ilmuwan Indonesia itu bisa inovasi. Karena kasus di US sudah banyak, maka Indonesia bisa lakukan pemeriksaan Tamiflu, bisa diuji coba juga. Atau hal lain, berupaya pasien diambil darah plasmanya disuntik kembali, itu bagian dari imunoterapi. Ini bagian yang sangat menggembirakan untuk melawan virus ini,” kata Taruna.

    Dia berharap hasil uji dari dua obat ini bisa memberikan jalan yang lebih bagus untuk menemukkan obat untuk Covid-19.

    “Akhirnya, semoga dalam waktu yang tidak terlalu lama, Obat Pilihan anti Covid-19 bisa segera disahkan,” katanya.

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Latest Posts

    POPULAR

    Error decoding the Instagram API json