Apa Jadinya Jika OnlyFans Jadi Pemilik TikTok?

Pendiri OnlyFans, Tim Stokely, ajukan tawaran akuisisi TikTok AS, membawa misi revolusi kreator bersama Zoop dan Hbar Foundation.

Microsoft Tertarik Akuisisi Tiktok

GadgetDIVA - TikTok kembali jadi sorotan, bukan hanya karena popularitasnya yang meroket, tapi karena tarik ulur kepemilikannya di Amerika Serikat. Banyak pihak kini tertarik mengakuisisi platform video pendek ini, karena potensi bisnisnya yang luar biasa dan peran strategisnya dalam lanskap media sosial global. Di tengah ancaman larangan operasional oleh pemerintah AS, muncul deretan nama besar yang siap mengambil alih kendali, termasuk yang paling mengejutkan: pendiri OnlyFans, Tim Stokely.

Mengapa begitu banyak pihak berebut membeli TikTok? Jawabannya sederhana namun strategis: TikTok telah menjadi platform digital yang menggabungkan kekuatan algoritma, kreativitas pengguna, dan keterlibatan yang sangat tinggi. Dengan lebih dari 150 juta pengguna aktif di AS saja, TikTok menjadi mesin penghasil trafik dan pendapatan yang tak bisa diabaikan. Tak heran jika raksasa teknologi seperti Amazon hingga investor non-tradisional seperti Tim Stokely terpikat untuk ikut dalam persaingan.

Misi Revolusi Kreator: TikTok ala OnlyFans?

Tiktok
Apa Jadinya Jika OnlyFans Jadi Pemilik TikTok? 5

Tim Stokely, pendiri platform konten dewasa OnlyFans, bersama startup media sosial barunya, Zoop, menggandeng perusahaan kripto Hbar Foundation untuk mengajukan proposal akuisisi TikTok di AS. Tawaran ini diklaim sebagai langkah revolusioner dalam dunia media sosial yang selama ini didominasi oleh raksasa teknologi dengan sistem yang menguntungkan korporasi, bukan kreator.

Advertisement

Menurut pernyataan resmi dari Zoop, mereka ingin menciptakan “revolusi kreator” dengan memberikan pembagian pendapatan yang lebih adil bagi para pembuat konten. Misi ini jelas berbeda dari pendekatan tradisional media sosial, yang seringkali mengambil porsi besar dari pendapatan iklan, meninggalkan kreator dengan bagian yang minim.

“Kreatorlah yang membawa trafik dan perhatian ke platform. Sudah semestinya mereka mendapat porsi terbesar dari pendapatan iklan,” ujar RJ Phillips, CEO Zoop sekaligus rekan Stokely.

Hbar Foundation dan Teknologi Blockchain AS

Keberadaan Hbar Foundation, yang mengelola jaringan blockchain Hedera, menjadi kartu truf dalam proposal Zoop. Mereka menekankan bahwa Hedera adalah jaringan publik berbasis AS yang aman, transparan, dan cocok untuk mendukung arsitektur sosial media yang mengutamakan kepemilikan dan insentif bagi kreator.

Advertisement

Hal ini sangat mungkin menjadi nilai plus dalam pandangan pemerintah AS yang tengah mengkhawatirkan soal keamanan data TikTok. Seperti diketahui, tekanan dari Gedung Putih terhadap ByteDance—perusahaan induk TikTok asal Tiongkok—berakar dari kekhawatiran bahwa data pengguna Amerika bisa diakses oleh pemerintah Tiongkok.

Proses Akuisisi Unik, Dipimpin Langsung oleh Gedung Putih

Yang menarik, proses akuisisi TikTok ini tidak seperti transaksi bisnis biasa. Pemerintah AS, dalam hal ini Gedung Putih, langsung memimpin proses seleksi pembeli. RJ Phillips menyebut bahwa mereka mendapat akses untuk mengajukan proposal melalui jalur resmi yang dibuka oleh pemerintah, bukan langsung melalui ByteDance.

Batas waktu untuk menyelesaikan proses ini adalah 5 April 2025, sesuai undang-undang yang disahkan pada Januari lalu. Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai, TikTok akan dilarang beroperasi di wilayah AS.

Advertisement

Amazon Ikut Masuk Arena, Tapi Kurang Serius?

Di menit-menit akhir, Amazon juga dikabarkan ikut mengajukan tawaran. Namun menurut laporan The New York Times, tawaran tersebut tampaknya tidak dianggap serius oleh para pengambil keputusan di Gedung Putih. Selain Amazon dan Zoop, sejumlah nama besar lain seperti Oracle dan perusahaan investasi Blackstone juga disebut masuk dalam daftar kandidat pembeli.

Salah satu opsi yang mengemuka adalah skema di mana kepemilikan TikTok diambil alih oleh tim investor asal AS, namun algoritma TikTok tetap dimiliki ByteDance. Algoritma ini kemudian akan disewakan kepada pembeli. Namun, rencana ini terhambat oleh peraturan ekspor teknologi dari pemerintah Tiongkok, yang sejak 2020 memperketat izin pelepasan teknologi strategis seperti algoritma AI.

Hanya Ingin Fasilitasi, Bukan MenguasaiTim Stokely dan timnya menegaskan bahwa tujuan mereka bukan untuk mengambil alih dan mendominasi, tapi menciptakan ekosistem yang lebih ramah kreator. Mereka ingin agar teknologi dan platform sosial seperti TikTok menjadi fasilitator—bukan penguasa—dalam dunia kreator digital.

Advertisement

“Platform teknologi seperti ini seharusnya memfasilitasi kreator, bukan hanya menguntungkan pemegang saham,” tegas Phillips.

Ini selaras dengan visi yang selama ini dibawa OnlyFans, meskipun kerap kontroversial, yaitu memberikan penghasilan langsung kepada kreator tanpa perantara berlebihan.

Apakah Pemerintah AS Akan Menerima?Kini pertanyaannya tinggal satu: akankah pemerintah AS memilih pendekatan revolusi kreator ala Stokely, atau tetap mempercayakan TikTok kepada nama-nama besar yang lebih mapan dalam dunia bisnis?

Advertisement

Dengan batas waktu yang semakin dekat, keputusan akan segera diumumkan. Entah itu Amazon, Zoop, atau tim investor seperti Oracle dan Blackstone, yang jelas masa depan TikTok di AS sedang dipertaruhkan. Dan siapa pun yang berhasil mendapatkan TikTok, akan menguasai salah satu kunci utama dalam ekosistem digital global.

Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.

Jurnalis teknologi dan gadget sejak 2005. Mulai dari Majalah Digicom, pernah di Tabloid Ponselku, pendiri techno.okezone.com, 5 tahun di Viva.co.id, 2 tahun di Uzone.id. Pernah bikin majalah digital Klik Magazine, sempat di perusahaan VAS Celltick Technologies. Sekarang jadi founder Gadgetdiva.id, bantuin Indotelko.com dan Gizmologi.id. Supermom dengan 2 orang superkids.