Sunday, 9 May 2021
More

    Latest Posts


    Mahasiswa Cambridge membuat replika mesin cyclometer

    Seorang mahasiswa master dari Universitas Cambrige, Hal Evans telah berhasil membangun replika mesin cyclometer yang dapat memecahkan kode Enigma Jerman.

    Cyclometer merupakan sebuah mesin yang dibangun pada awal 1930-an oleh matematikawan Polandia. Mesin ini akan membantu menguraikan pesan rahasia yang dikirim oleh Jerman melalui mesin Enigma.

    Mesin tersebut memiliki ukuran yang sama dengan laptop besar, namun jauh lebih berat, memiliki kabel, sakelar dan roto seharga sepuluh kilogram. Mesin ini menjadi cyclometer versi abad ke-21.

    Mirip dengan mesin aslinya, replika mesin Cyclometer buatan Evans ini dapat membuat katalog raksasa dari semua cara potensial yang bisa diterjemahkan oleh teks biasa ke dalam teks sandi Enigma oleh teknologi Jerman.

    Mesin semi-otomatis ini akan mengotomatiskan proses mengidentifikasi dan membuat katalog hasil dari setiap bagian yang mungkin dari kode Enigma yang dihasilkan pada hari-hari awal protokol Jerman.

    Replika mesin cyclometer ini pertama kali didemonstrasikan oleh Flack pada Zoom. Ia menjelaskan bahwa cyclometer merupakan contoh awal dari kejeniusan kripotgrafi dan memiliki peran penting dalam pengembangan Bombe karya Alan Turing yang digunakan untuk memecahkan kode Enigman Jerman selama Perang Dunia II.

    “Bombe milik Turing muncul pada titik dimana metode Polandia tidak lagi memadai karena Jerman telah meningkatkan keamanan sedemikian rupa sehingga metode ini tidak lagi berfungsi,” kata Flack yang dilansir dari ZDNet. “Namun, orang-orang Bletchley Park tidak mungkin melakukan apa yang mereka lakukan tanpa informasi dari para cryptographers Polandia.”

    Cyclometer yang asli berasal dari Polandia yang dibangun oleh tim yang dipimpin oleh ahli kriptologi Marian Rejewski pada 1930-an sebagai tanggapan atas ancaman perang lain dengan Jerman.

    Pada saat itu, Jemran sudah menggunakan mesin Enigma untuk berkomunikasi pesan radio yang disandikan. Protokol Enigma didasarkan pada mekanisme yang mengacak 26 huruf alfabet. Seorang akan memasukkan teks pada mesin dengan setiap huruf memicu yang lain untuk menyala secara acak agar bisa diketik ke dalam mesin penerima untuk mengubah sandi menjadi teks biasa yang dapat dibaca.

    Mekanisme yang mengubah teks biasa menjadi teks sandi yang menyala didefinisikan oleh sistem rotor huruf reflektro dan papan colokan yang rumit. Satu mesin Enigma biasanya datang dengan satu set tiga rator yang masing-masing dapat diatur ke salah satu dari 26 huruf alfabet.

    “Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan mengambil pesan Enigma, mengetikkan beberapa pesan acak yang mungkin untuk melihat apakah mereka cocok dan melihat apa yang keluar darinya, namun hal ittu akan membawa jutaan tahun sebelum kamu cukup beruntung untuk melakukannya. Menemukan kecocokan,” kata Flack. “Kamu juga harus mengurangi jumlah kemungkinan dan untuk itulah dibuat cyclometer.”

    Butuh waktu lebih dari satu tahun dan seorang mahasiwa yang sangat tertarik untuk membuat replika cyclometer modern ini. Hal ini menjadi suatu prestasi yang belum pernah dicapai sebelumnya karena biaya dan kompleksitas mekanik dari mereproduksi mesin asli.

    Sementara, beberapa juga pernah ada yang membuat versi lunak, namun menciptakan kembali perangkat keras yang sudah puluhan tahun, menurut Flack, “berakhir dengan kegagalan yang luar biasa”.

    Flack yang merupakan tutor dari Hal Evans, menyatakan bahwa penelitiannya didasari pada informasi historis tentang cyclometer untuk menggabar desain mekanik dan fisik mesin.

    Evans menggunakan reflektor dan rotor yang terdiri dari beberapa ribu bagian dari seorang ahli mesin di Jerman. Namun, ia membuat sisa komponen replika dari awal pada departemen teknik Universitas.

    Mesin terakhir merupakan mesin salinan yang tepat dari aslinya. Lengkap dengan kabel yang diinsulasi sutra dan tali kabel linen-lilin di seluruh. Hal itu tidak berarti bahwa proyek ini dapat berjalan lancar sepanjang jalan.

    “Kamu harus membayangkan kami memiliki 26 kabel terpisah yang berasal dari set sistem rotor dan kemudian semua kabel internal disambungkan ke bohlam dan sakelar. Setelah itu kamu potong kabelnya, agar sedikit reversibel,” kata Flack. “Kami harus yakin saat menghubungkan itu semua.”

    Alih-alih mengambil risiko, tim terlebih dahulu menguji teknologi pada papan sirkuit. Memang benar: ternyata, sistem tidak bekerja dengan baik pada pertama kali. Setelah men-debug mesin, Evans dan tutornya menyadi bahwa masalah itu hanya datang dari sambungan patri yang rusak dan tak lama kemudian, cyclometer kembali aktif setelah beberapa bulan.

    Baca juga, penelitian: jumlah gamer perempuan di Asia semakin meningkat

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Latest Posts

    POPULAR