Sunday, 17 January 2021

Samsung Perkenalkan Robot Rumah Tangga baru, Bisa Ambil Minum untuk Kamu

CES nggak akan seru tanpa Samsung memamerkan robot baru. Setahun setelah meluncurkan bot bola seukuran jeruk bali Ballie, Samsung telah mengungkapkan beberapa mesin baru...
More

    Latest Posts


    58 Persen Wanita Pernah Alami Pelecehan di Dunia Maya

    Sebuah survei besar yang dilakukan di seluruh dunia menyebut jika satu di antara lima perempuan memutuskan untuk tak lagi bermain media sosial, atau setidaknya mengurangi interaksi di dunia maya. Hal ini dilakukan setelah mereka mengalami pelecehan atau kekerasan di dunia maya.

    Satu dari lima perempuan atau setara dengan 19 persen responden. Sedangkan 12 persen lainnya telah mengubah cara mereka mengekspresikan diri di dunia maya. Akibatnya, perempuan dan semua wanita di dunia mendesak adanya aksi dari para pengembang media sosial untuk menanggulangi itu semua. Survei tersebut juga mengungkap jika 58 persen para wanita di dunia sempat mengalami kekerasan atau pelecehan di dunia maya.

    Dilansir melalui The Zimbabwean.co, Minggu, 11 Oktober 2020, pelecehan online kebanyakan dilakukan di media sosial dengan platform ‘terjahat’ adalah Facebook sebanyak 39 persen. Sedangkan pelecehan lainnya terjadi di Instagram sebesar 23 persen, WhatsApp sebesar 14 persen, Snapchat 10 persen, Twitter 9 persen dan TikTok sebesar 6 persen.

    Baca juga: Manusia Modern Berevolusi, Tak Lagi Punya Gigi Bungsu

    Survei itu dilakukan oleh Plan International, sebuah organisasi hak asasi perempuan. Survei ini melibatkan wawancara mendalam terhadap 14 ribu perempuan berusia 15 sampai 25 tahun, yang berasal dari 22 negara. Jumlah responden sebanyak itu dianggap sebagai yang terbesar di dunia dalam urusan survei.

    Pengguna media sosial di negara-negara berpenghasilan tinggi dan rendah secara rutin menjadi sasaran pesan eksplisit, foto-foto pornografi, cyberstalking dan bentuk-bentuk pelecehan yang menyedihkan lainnya. Yang menarik dari survei tersebut, meski pelecehan kerap terjadi namun alat pelaporan di media-media sosial tersebut tidak efektif untuk menghentikannya.

    Pelecehan online ternyata juga merusak kehidupan anak perempuan saat offline. Satu dari lima (22%) responden mengatakan bahwa mereka kerap mengkhawatirkan keselamatan fisik teman mereka yang kerap dilecehkan di dunia maya. Sementara itu, 44 persen mengatakan perusahaan media sosial perlu berbuat lebih banyak untuk melindungi mereka.

    Sebanyak 74 persen responden dalam survei itu juga mengaku jika mereka secara rutin bermain media soaial. Bahkan sejak pandemi berlangsung, mereka menganggap berinteraksi di dunia online menjadi lebih penting. Sebanyak 50 persen responden mengaku pelecehan online lebih sering terjadi ketimbang pelecehan di pinggir jalan.

    Survei itu juga menyebut satu di antara tiga orang perempuan atau sekira 35 persen mengaku telah melaporkan tindakan pelecehan dan kekerasan. Namun hal itu dianggap tak mudah karena kebanyakan pelaku selalu bisa membuat akun baru. Apalagi dibutuhkan laporan dari banyak orang sebelum sebuah akun bisa di take-down.

    Yang berbahaya, pelecehan kerap mempengaruhi kesehatan dan kepercayaan diri para gadis tersebut. 39 persen dari perempuan yang ikut survei mengaku mereka kehilangan rasa percaya diri setelah mengalami pelecehan online. Sedangkan 38 persen mengaku down dan sempat sakit mental serta emosional atau stres. Sedangkan 18 persen mengaku pelecehan bisa menimbulkan masalah di sekolah atau pendidikan mereka.

     

     

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Latest Posts

    POPULAR