Skincare Lokal Bikin Glowing, Ini Rahasianya!

0
249

Merawat kulit harus selalu kita lakukan, meski hanya di rumah saja. Menurut Danang Wisnu, skincare enthusiast, paling tidak kita tidak mengabaikan perawatan kulit dasar, seperti membersihkan, melembabkan dan melindungi.

Di Asia, produk kecantikan dan perawatan kulit yang sedang digemari konsumen adalah produk yang mengandung bahan alami dan diproduksi secara sustainable atau berkelanjutan.

Berdasarkan temuan Lingkar Temu Kabupaten Lestari tahun 2020 di Cina, permintaan terkait porduk perwatan kulit berbahan alami atau produk organik terbilang tinggi dan konsumen di Korea Selatan memilih produk berkelanjutan, tidak membahayakan dan tidak membunuh hewan dalam proses pembuatannya.

Sementara itu, konsumen Jepang lebih memilih produk berkualitasa tinggi dan berteknologi canggih. Kesadaran mereka akan kesehatan dan keberlanjutan meningkatkan pertumbuhan produk kecantikan alami dan organik.

Nelson Pomalingo, selaku Bupati Gorontalo sekaligus Ketua Program Pengembangan Bisnis Lestari, Lingkar Temu Kabupaten Lestari, menguraikan, karena berbasis potensi alam, berarti lingkungan yang menghasilkan itu harus dijaga, kualitas tanah dan air harus optimal. “Jika tidak, kualitas produk akan menurun. Kini sustainability yang terkait lingkungan telah menjadi indikator pasar secara global. Kalau tidak menjadi perhatian kita, bisa saja produk kita bagus tapi tidak diminati oleh pasar.”

Skincare lokal diklaim dapat membuat kita glowing dan bahagia. Selain itu, produk lokal juga pasti lebih ramah lingkungan karena jalur distribusinya pendek, serta tidak menghasilkan terlalu banyak emisi karbon yang berpotensi menyebabkan krisis iklim. Berikut adalah alasan dibaliknya.

Cocok untuk kulit orang Indonesia

Berdasarkan pengamatan serta pengalaman Danang, produk skincare didesain sesuai karakter negara produsennya. Misalnya, produk skincare dari Eropa akan fokus pada perawatan di iklim 4 musim.

“Untuk produk skincare buatan Indonesia, riset dan proses produksinya pasti dilakukan di sini, produknya dites pada orang Indonesia, dan sebagian besar bahan merupakan bahan lokal. Jadi, produknya akan lebih aman, lebih cocok untuk kulit orang Indonesia, dan lebih minim efek samping,” kata Danang.

Sejak awal memulai usaha kecilnya, Yefni, pelaku usaha UMKM dari Aceh Tamiang, salah satu kabupaten anggota LTKL, menetapkan konsep produk yang ramah lingkungan. Karena itu, ia memakai bahan-bahan di sekitarnya untuk membuat berbagai produk perawatan tubuh dan rambut, seperti daun jambu, mahkota dewa, daun kelor, kopi, dan cengkeh.

“Negeri ini memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya. Masing-masing punya khasiat tersendiri. Misalnya, cengkeh bisa menghilangkan jerawat, sementara pala bersifat anti-aging. Bahan-bahan lokal ini cocok untuk merawat kulit kita,” kata Yefni, yang terbiasa meracik masker sendiri sejak masih remaja.

Aroma dan teksturnya pas

Dari temuan LTKL, konsumen Cina juga menekankan pentingnya produk perawatan yang menggunakan ramuan tradisional Cina. Mereka tidak lagi terobsesi pada apa pun yang diberi label asing dan lebih percaya diri akan budaya mereka sendiri.

Begitu juga dengan Indonesia. Produk skincare buatan Indonesia cenderung disukai pasar domestik, karena dirancang sesuai iklim tropis. Danang membandingkan antara produk lokal dan produk Eropa. Menurutnya, tekstur produk lokal cenderung ringan, cocok untuk orang yang tinggal di negara tropis, sementara produk Eropa terasa terlalu berat dan membuat kulit jadi tidak nyaman.

“Selain itu, aroma produk Eropa sering kali terlalu tajam, sedangkan aroma produk lokal lebih pas dengan selera kita. Sudah banyak produk lokal yang menggunakan bahan lokal sebagai penambah aroma. Misalnya, kopi yang sekarang dipakai sebagai bahan scrub. Selain kulit mendapat tambahan antioksidan, aroma kopi juga enak banget ketika dihirup,” kata Danang.

Sepakat dengan pemikiran tersebut, Yefni menggunakan berbagai rempah lokal sebagai bahan baku. Di samping memberi berbagai khasiat, rempah seperti cengkeh dan pala juga memberi aroma khas, yang disukai oleh orang Indonesia.

Harga Terjangkau

Dibandingkan produk impor, harga produk lokal jauh lebih terjangkau, karena menggunakan bahan lokal dan diproduksi secara lokal juga. Meskipun demikian, Danang menjelaskan, “Harga produk lokal beragam. Tidak bisa disangkal, harga tidak bohong. Artinya, produk lokal dengan harga lebih mahal punya kualitas yang lebih baik daripada produk lokal berharga murah. Katakanlah untuk produk vitamin C. Teksturnya, mixing-nya, dan layering-nya pasti terasa berbeda,” kata Danang, menegaskan bahwa yang penting produk itu aman, ditandai dengan adanya izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Bisa berdayakan banyak orang

Proses produksi untuk produknya masih dikerjakan sendiri oleh Yefni. Namun, ia menggandeng beberapa pihak lain untuk membantu. Misalnya, ia membeli bahan dari penduduk setempat, meminta bantuan orang lain untuk kirim produk, dan mendapatkan kemasan produk berupa besek tanaman bili dari teman sesama pengusaha.

“Kolaborasi itu perlu, karena sekaligus bisa memberdayakan masyarakat sekitar. Seandainya usaha saya lancar, volume produksi juga akan meningkat. Artinya, saya akan membeli lebih banyak bahan dari penjual. Perekonomian penduduk terbantu, petani pun ikut sejahtera. Semua pihak senang,” kata Yefni, yang sedang mengurus perizinan usahanya di BPOM. 

Nelson menyebutkan, keberlanjutan juga diupayakan dari sisi ekonomi. Karena itu, Pemda Gorontalo ikut mendorong kemajuan bisnis para pelaku usaha UMKM. “Kami melakukan pembinaan bagi mereka terkait standarisasi produk dari sisi pasar, menjalin komunikasi, dan membuka jaringan. Dengan begitu, pelaku usaha tidak hanya membuat produk, melainkan membuat produk dengan baik. Harapannya, semangat masyarakat akan terjaga, baik petani maupun pelaku usaha UMKM yang berbasis potensi lestari.”

Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LKL) sendiri merupakan asosiasi pemerintah kabupaten yang bertujuan mewujudkan target nasional untuk pembangunan berkelanjutan, salah satunya lewat pengembangan produk lokal yang ramah lingkungan dan ramah sosial.

Baca juga, Kategori Home and Living di Tokopedia Meningkat Selama Pandemi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here