Meta Tak Menyediakan Default End-to-end Encryption untuk Messenger dan Instagram Sampai 2023

0
68
Melaporkan Postingan Instagram
Unsplash/Solen Feyissa

Meta, perusahan pemilik Facebook, Instagram dan WhatsApp tak berencana untuk meluncurkan fitur end-to-end encryption (E2EE) secara default untuk  Messenger dan Instagram hingga 2023 mendatang. Kabar ini pertama kali disampaikan oleh The Guardian.

Dilansir dari The Verge, perusahaan menggabungkan obrolan Messenger dan Instagram tahun lalu, sebagai bagian dari rencananya untuk membuat sistem perpesanan terpadu di semua platformnya.

Meskipun pesan yang dikirim melalui Messenger dan Instagram dapat berupa end-to-end encryption, opsi tersebut tidak dapat dan mungkin tak akan bisa lagi diaktifkan secara default hingga 2023. WhatsApp sendiri telah mendukung fitur E2EE secara default.

FItur Music Instagram

Dalam sebuah posting di The Telegraph, Antigone Davis, kepala keamanan Meta mengaitkan penundaan tersebut dengan kekhawatiran terkait keselamatan pengguna.

Oleh karena, E2EE berarti hanya pengirim dan penerima yang akan melihat percakapan mereka, Davis mengatakan Meta ingin memastikan bahwa fitur ini tidak mengganggu kemampuan platform untuk membantu menghentikan aktivitas kriminal.

Setelah E2EE tersedia secara default, Davis mencatat bahwa perusahaan akan “menggunakan kombinasi data yang tidak dienkripsi di seluruh aplikasi kami, informasi akun dan laporan dari pengguna” untuk membantu menjaga mereka tetap aman, sambil “membantu upaya keselamatan publik.”

Dalam sebuah posting blog awal tahun ini, Meta mengatakan bahwa E2EE default akan tersedia di Instagram dan Messenger “paling cepat pada tahun 2022.” Akan tetapi sekarang, Davis mengatakan bahwa Meta ingin “melakukannya dengan benar,” sehingga perusahaan berencana untuk menunda debut fitur tersebut hingga 2023.

Messenger kontrol privasi

Hal ini juga berhubungan dengan RUU Keamanan Online Inggris yang akan berlaku pada tahun 2023 mendatang. Dimana akan membutuhkan platform online untuk menjaga anak-anak dari bahaya, serta segera menangani konten yang kasar.

Hal ini juga dapat menghambat rencana Facebook untuk mengaktifkan E2EE secara default. Pasalnya, Menteri Dalam Negeri Inggris, Priti Patel, telah mengkritik penggunanya di masa lalu.

Menurut sebuah laporan dari BBC, Patel mengkalim E2EE dapat membuat lebih sulit untuk mencegah pelecehan anak secara online. Ia menyatakan, “sayangnya, pada saat kita perlu mengambil lebih banyak tindakan… Facebook masih mengejar rencana E2EE yang menempatkan kebaikan pekerjaan dan kemajuan yang telah dibuat dalam bahaya.”

Tahun lalu, AS bergabung dengan Inggris, Australia, New Zealand, Kanada, India dan Jepang dalam panggilan untuk memberi akses backdoor encryption penegak hukum setempat yang akan memungkinkan pihak berwenang untuk melihat pesan dan file terenkripsi jika surat perintah dikeluarkan.

Baca juga: Turuti Adele, Spotify Hapus Tombol Shuffle

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here