Ide Brilian Mahasiswi Indonesia Hadapi Sampah Makanan

0

Sampah makanan kini menjadi masalah dunia karena memicu problem besar yang mengkhawatirkan. Karena bertanggung jawab atas 10% emisi gas rumah kaca yang membahayakan bumi, sampah jenis ini merupakan penyumbang signifikan terhadap krisis iklim.

“Sampah makanan yang membusuk di tempat pembuangan akhir merupakan sumber pencemaran dan perusakan lingkungan. Karena sampah tersebut menghasilkan bau dan gas metana yang dapat merusak lapisan ozon,” ujar Direktur Riset dan Inovasi, Universitas Prasetiya Mulya, Dr. Stevanus Wisnu Wijaya di Jakarta.

Berbagai fakta tentang bahaya sampah makanan, menurut Wisnu, mendorong Universitas Prasetiya Mulya (Prasmul) bersama sejumlah kampus di dalam dan luar negeri berkolaborasi membentuk sebuah konsorsium proyek bernama In2Food.

Inisiatif Manajemen Sampah Makanan Ala Mahasiswa Prasmul

Dalam perhelatan Food Waste to Finish (FWTF) Summer School Program ini Universitas Prasetiya Mulya mengirimkan lima mahasiswa perwakilan untuk beradu konsep dan merancang kolaborasi dengan peserta dari kampus lain. Kelima mahasiswa terpilih tersebut, menurut Wisnu, sebelumnya telah mengikuti seleksi di internal kampus.

Acara FWTF sendiri digelar di Bali pada 14-27 Agustus. Selama itu, para peserta mengikuti berbagai rangkaian acara seperti diskusi, seminar, hingga presentasi konsep. Dalam acara ini, salah satu konsep usulan yang diusung mahasiswa Prasmul bersama peserta dari kampus lain terpilih sebagai usulan solusi terbaik. Konsep ini bernama “Ibu Foodies” yang diusung Ni Putu Mas Swandewi dari Program Studi Software Engineering.

Pada acara FWTF, konsep Swandewi itu kemudian berkembang menjadi lebih luas. Di sana, bersama anggota tim dari universitas lain, Ibu Foodies berkembang menjadi sebuah platform edukasi sosial.

Lewat program edukasi “Turn That Veggie Waste Into Delicious Taste” ini, ujar Swan, peserta diajak untuk memanfaatkan sisa sayuran yang biasa terbuang untuk diolah kembali jadi makanan yang tak kalah lezat dan bernutrisi, atau ditanam kembali sehingga dapat tumbuh dan menghasilkan.

Untuk tahap awal, program edukasi yang dijalankan Swan dan kawan-kawan menggandeng Komunitas Ibu Pembelajar Indonesia yang anggotanya sudah mencapai ribuan di berbagai daerah. Anggota komunitas ini pun terbilang cukup melek dengan teknologi dan memiliki keinginan belajar yang cukup tinggi.

Sementara itu, mahasiswa Prasmul lainnya dari Program Studi Ekonomi Bisnis, Ethelind B. Santoso bersama tim menghadirkan konsep “No Action Too Small”. Konsep ini hampir mirip dengan program edukasi yang diusung Swandewi.

Bedanya, Ethelind dan kawan-kawan menyasar para pelaku usaha kecil dan pedagang kaki lima penjual makanan sebagai target edukasi mengenai manajemen sampah makanan.

Adapun, setelah sukses menggelar rangkaian acara tingkat internasional bagi para mahasiswa kampus anggota konsorsium In2Food, rencananya pada Februari 2023, konsorsium juga akan mengadakan kegiatan serupa dengan sasaran peserta lebih luas.

Baca juga : Samsung Resmi Rilis Galaxy A04s ke Indonesia, Harga Rp2.099.000!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini