Perempuan di dunia keamanan siber, kenapa tidak?

Perempuan di dunia keamanan siber memang masih sedikit. Di era informasi teknologi, peran perempuan semakin kuat dan dibutuhkan oleh perusahaan. Namun memang belum banyak perempuan yang menduduki posisi penting dunia IT, khususnya untuk mengurus keamanan siber perusahaan.

Keamanan dunia siber (cybersecurity), seperti halnya TI pada umumnya, dapat dianggap sebagai bidang yang didominasi oleh kelompok laki-laki. Persepsi ini bisa menjadi penghalang bagi perempuan untuk masuk di dunia keamanan siber. Menurut laporan 451 penelitian, “Cybersecurity through the CISO’s eyes. Perspectives on a role” yang dilakukan oleh Kaspersky, 45 persen CISO mengkonfirmasi bahwa perempuan kurang terwakili di departemen mereka.

Walaupun begitu, sebanyak 37 persen dari organisasi tersebut mempunyai (setidaknya akan menerapkan) prosedur resmi yang bertujuan menarik lebih banyak perempuan di departemen keamanan TI mereka. Pendekatan yang paling populer untuk menarik perhatian para perempuan adalah, 80 persen perusahaan berkomitmen untuk melatih mereka yang memiliki latar belakang IT.

Hampir setengah dari responden mengatakan bahwa mereka sekarang menyediakan, atau akan memberikan, program magang yang ditujukan untuk siswa perempuan (42 persen) atau bersiap untuk melatih kandidat dengan sedikit atau tanpa kualifikasi (40 persen). Hanya 22 persen yang berniat memperkerjakan kandidat perempuan dari departemen lain dalam organisasi mereka.

Sisanya (63%) mengatakan bahwa mereka hanya mencari spesialis yang berkualifikasi penuh, tanpa mempertimbangkan gender. Namun, karena 70% dari CISO merasa kesulitan untuk mencari spesialis keamanan TI yang terampil di berbagai bidang, terdapat panggulan bagi CISO untuk mencari alternatif lain demi menjembatani kesenjangan talenta tersebut.

Penelitian ini juga menemukan bahwa laki-laki melebihi jumlah perempuan di antara para pemimpin keamanan TI. Hanya seperlima (23%) responden menjawab pertanyaan tentang gender, yang menyatakan bahwa mereka adalah perempuan. Meskipun demikian, masa jabatan dalam peran tersebut menunjukkan bahwa jumlah perempuan dalam kepemimpinan keamanan sedang mengalami peningkatan: 20% responden perempuan telah berpindah posisi menjadi pemimpin keamanan TI dalam dua tahun terakhir, di mana dua kali lebih besar dari jumlah laki-laki (10%) di peran ini.

Temuan survei ini menunjukkan bahwa situasi industri keamanan memang sedang mengalami perubahan, namun masih jauh dari kondisi ideal dan kita masih mengadapi kekurangan dalam hal representasi perempuan yang kuat dalam peran di sektor tersebut. Ini bukan hanya masalah menemukan rasio sempurna antara laki-laki dan perempuan.

“Dalam wawancara mendalam dengan CISO, banyak dari mereka mengatakan bahwa tidak ada cukup banyak kandidat perempuan dalam jaringan. Jadi, untuk mengatasi kesenjangan gender dalam keamanan dunia siber, kita juga harus mendorong perempuan untuk memilih jalur karir ini,” kata Evgeniya Naumova, acting Managing Director, Europe, di Kaspersky.

Kaspersky berkomitmen untuk mendorong perempuan di industri keamanan siber dan mengatasi situasi bias gender. Di antara inisiatifnya, perusahaan menciptakan komunitas online, Women in Cybersecurity, yang bertujuan mendukung pertumbuhan karir perempuan untuk memasuki industri keamanan siber dan mereka yang sudah menyicipi lapangan pekerjaan tersebut. Kaspersky bermitra dengan Girls in Tech untuk mendukung AMPLIFY, sebuah kompetisi startup bagi para pendiri perempuan untuk pendanaan awal. Perusahaan ini secara rutin mengadakan acara CyberStarts di Amerika dan Eropa, yang memberdayakan generasi keamanan siber profesional berikutnya. Salah satu topik utama acara ini adalah upaya untuk mengurangi kesenjangan gender dalam bidang keamanan siber.

4 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published.