GadgetDIVA - Perayaan ulang tahun ke-50 Microsoft yang semestinya berlangsung meriah justru berubah menjadi sorotan publik. Bukan karena teknologi terbaru atau pencapaian luar biasa, melainkan karena aksi protes dramatis dari seorang pegawainya sendiri.
Di tengah acara peringatan setengah abad perusahaan teknologi raksasa tersebut, Ibtihal Aboussad—seorang software engineer yang telah bekerja selama lebih dari tiga tahun di Microsoft—naik ke panggung dan mengejutkan semua orang. Ia menyuarakan kritik tajam langsung kepada Mustafa Suleyman, CEO AI Microsoft, yang sedang memberikan pidato.
“Kamu memalukan! Kamu mengambil keuntungan dari perang! Berhentilah menggunakan AI untuk genosida di tanah kami!” teriak Aboussad lantang di depan ribuan peserta acara.
Baca Juga
Advertisement
Aksi tersebut memang langsung membuatnya diusir dari lokasi acara. Namun, Aboussad tidak berhenti sampai di sana. Beberapa saat setelahnya, ia mengirimkan email terbuka ke ratusan bahkan ribuan rekan kerjanya di Microsoft.
Dalam email tersebut, ia menjelaskan secara rinci alasan dari tindakannya. Ia menulis: “Nama saya Ibtihal, dan selama 3,5 tahun terakhir saya menjadi software engineer di Microsoft AI Platform Org. Hari ini saya berbicara karena saya menyadari teknologi yang saya bantu bangun digunakan untuk melakukan genosida terhadap saudara-saudara saya di Palestina.”
Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa Microsoft selama ini telah menekan suara-suara yang mencoba mengkritik kebijakan perusahaan terkait konflik di Palestina.
Baca Juga
Advertisement
Menurut pengakuan Aboussad, komunitas Arab, Palestina, dan Muslim di lingkungan Microsoft telah mengalami intimidasi, pelecehan, hingga doxing selama lebih dari satu setengah tahun. Ia menilai perusahaan membiarkan hal ini terjadi tanpa tindakan berarti.
“Microsoft telah menciptakan ruang kerja yang tak aman bagi banyak dari kami. Kami dipaksa diam ketika perusahaan justru memperkuat mesin perang lewat teknologinya,” tulisnya dalam email tersebut.
Kontrak Kontroversial dengan Israel
Salah satu hal yang menjadi dasar kemarahan Aboussad adalah laporan terkait kontrak senilai USD 133 juta antara Microsoft dengan Kementerian Pertahanan Israel. Data yang dihimpun dari Associated Press menyebutkan bahwa penggunaan teknologi Microsoft—termasuk AI dari OpenAI—oleh Israel melonjak hingga 200 kali lipat sejak Maret 2024.
Baca Juga
Advertisement
Selain itu, volume data yang disimpan di server Microsoft dilaporkan meningkat dua kali lipat dari Maret hingga Juli 2024, mencapai 13,6 petabyte. Data tersebut digunakan oleh militer Israel untuk aktivitas pengawasan massal, termasuk penyadapan panggilan telepon, pesan suara, hingga terjemahan otomatis.
Yang lebih mengkhawatirkan, menurut laporan The Verge, teknologi Microsoft Azure kini digunakan dalam operasi-operasi rahasia militer Israel. Hal ini mencakup penargetan data perbankan hingga basis data kependudukan Palestina. Microsoft cloud dan AI dinilai telah memperkuat kemampuan militer Israel dalam konflik di Gaza.
Aboussad menegaskan bahwa dirinya tidak bisa tinggal diam setelah mengetahui bahwa teknologi yang ia kembangkan digunakan untuk tujuan yang bertentangan dengan nilai-nilainya.
Baca Juga
Advertisement
Melalui aksinya, Aboussad juga mengajak rekan-rekan sesama pegawai Microsoft untuk ikut menandatangani petisi bertajuk No Azure for Apartheid. Petisi ini menyerukan penghentian pengembangan software yang mendukung pembunuhan dan penindasan.
Ia menutup pesannya dengan pernyataan bahwa ini bukan tentang satu orang atau satu negara, tetapi tentang kemanusiaan. Baginya, ini adalah momen untuk memilih berpihak—antara menjadi penonton pasif atau bertindak demi keadilan.
Respons Publik dan Dampak ke Depan
Aksi berani Ibtihal Aboussad tentu saja menuai reaksi beragam. Banyak yang memujinya sebagai suara keberanian di tengah dominasi korporasi besar. Namun, tidak sedikit pula yang mempertanyakan akurasi dan motif di balik tuduhannya.
Baca Juga
Advertisement
Meski begitu, satu hal menjadi jelas: teknologi kini tidak lagi netral. Di era AI dan cloud computing, setiap baris kode dapat menentukan hidup dan mati. Dan dalam kasus ini, seorang pegawai memilih untuk tidak diam ketika merasa teknologi itu menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan.
Perayaan 50 tahun Microsoft pun menjadi momen reflektif—bukan hanya soal sejauh mana teknologi berkembang, tetapi juga sejauh mana kita bertanggung jawab atas penggunaannya.
Baca Juga
Advertisement
Cek berita teknologi, review gadget dan video Gadgetdiva.id di Google News. Baca berita otomotif untuk perempuan di Otodiva.id, kalau butuh in-depth review gadget terkini kunjungi Gizmologi.id. Bagi yang suka jalan-jalan, wajib baca Traveldiva.id.