Sunday, 20 June 2021
More

    Latest Posts


    Mengenal Amanda Simandjuntak, pendiri Markoding

    Amanda Simandjuntak, merupakan Co-Founder Markoding (Mari Kita Koding!), sebuah Yayasan Daya Kreasi Anak Bangsa. Markoding sendiri merupakan organisasi dengan misi untuk memberdayakan anak remaja yang kurang mampu di Indonesia dengan mengajarkan keterampilan inovasi dan teknologi, khususnya coding/pemrograman komputer.

    Program Markoding yang dipimpin langsung oleh Amanda Simandjuntak ini melatih para anak dan remaja untuk dapat menemukan masalah di lingkungan sekitar, memformulasikan ide solusi digital, dan membuat ide mereka menjadi kenyataan dengan coding.

    bicara soal ilmu coding, wanita lulusan ilmu komputer di australia ini menerangkan tentang arti dari coding sendiri, yaitu memberi instruksi pada komputer, menggunakan bahasa yang dimengerti komputer.

    Selain memahami pentingnya coding, Amanda juga memiliki kepedulian tentang kemampuan coding terhadap siswa indonesia. Amanda menceritakan setelah menjadi seorang programmer selama beberapa tahun dan akhirnya dirinya berpulang ke Jakarta, ia memulai karir dengan mendirikan perusahaan konsultan IT.

    Amanda memaparkan bahwa ketika mendirikan perusahaan konsultan IT, dirinya menemukan suatu masalah yang ternyata juga dialami oleh pelaku industri digital lainnya. Kondisi tersebut dirasakan ketika amanda merektur karyawan untuk menjadi programmer.

    “Saat itu saya merekrut lulusan S2 informatika yang ternyata tidak bisa coding. Sehingga itu yang membuat saya masuk kedunia edukasi,” ujarnya.

    Dalam mendirikan organisasi nonprofit Markoding, nyatanya Amanda bukan sekedar sulit mencari karyawan namun juga memperdayakan siswa marginal Indonesia.

    Hal ini dijelaskan bahwa sejak itu Amanda mulai megunjungi kawasan cilincing, jakarta utara. Ketika itu Amanda menjadi volunteer di salah satu rumah belajar di desa nelayan untuk mengajar matematika dan bahasa inggris.

    Tidak sengaja, dirinya melihat warnet dipemukiman kumuh diatas kali. “Saat aku melihat warnet diatas kali, di situ banyak anak yang jago main komputernya. Dari situ mulailah aku mikir, itu adalah sebuah potensi,” ungkapnya.

    Saat itu Amanda melihat bahwa banyak lulusan SMA/SMK di kawasan tersebut yang kerja serabutan seperti menjadi tukang parkir, tukang tambal ban, dan bukan malah menjadi pekerja tetap.

    Dari sanalah Markoding bermula yang dibangun tahun 2017 untuk menjangkau lebih banyak siswa marginal, jenjang SMP, SMA/SMK dan PKBM dengan belajar coding.

    Semenjak dibangun, Markoding saat ini sudah menjangkau 25 sekolah (SMP, SMA, SMK, PKBM) dengan total 700 siswa yang mengikuti pelatihan. “Kita men-training mereka dengan skill inovasi dan juga skill digital khususnya coding. Tujuan kita ingin menghasilkan generasi Indonesia yang siap kerja. Jadi, hashtag kita Indonesia Siap Kerja. Misi kita pengangguran muda Indonesia tidak ada lagi,” tegasnya.

    Pada kesempatan ini, Amanda pun menunjukkan keprihatinannya terhadap pendidikan di Indonesia yang belum mendukung ilmu coding itu sendiri, seperti kurikulum yang tidak relevan dengan kebutuhan industri dan kedua bahkan guru-guru tidak bisa mengajar coding.

    Untuk itulah, Amanda mendirikan Markoding sebagai lembaga nonprofit dengan tujuan menghapuskan pengangguran muda di Indonesia dengan menjembatani kesenjangan skill tersebut.

    “Kebutuhan industri akan 17 juta tenaga kerja di bidang digital ini hingga 2030 dipadu dengan adanya kesenjangan skill, berpotensi membuat pengangguran muda menjadi lebih banyak,” pahamnya.

    Prihatin dengan kondisi ini, Amanda pun berharap melalui program Markoding ini siswa marginal memiliki kompetensi di bidang IT sehingga lebih mudah terserap di dunia kerja.

    Baca juga, Webinar M-Class beri edukasi pentingnya coding di era digital

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Latest Posts

    POPULAR