Saturday, 31 July 2021
More

    Latest Posts


    5 Wanita Indonesia Yang Dedikasikan Diri di Dunia Teknologi

    Paradiva, yuk kenalan sama 5 wanita keren asal Indonesia ini yang mendedikasikan diri di dunia teknologi. Selain sukses dan memiliki banyak prestasi dalam bidang mereka masing-masing, salah satu dari mereka bahkan sudah ada yang menguasai percodingan dari usia belia.

    Mereka adalah Shinta Dahnuwardoyo, Alamanda Shantika, Amanda Simandjuntak, Ellen Niro dan Erica Hutapea. Penasaran nggak sih, Paradiva? Simak ulasannya, ya!

    Shinta Dhanuwardoyo

    Shinta Dhanuwardoyo merupakan seorang wanita Indonesia yang mendedikasikan dirinya di bidang teknologi. Dikenal dengan sebutan Shinta Bubu dirinya merupakan seorang pengusaha, pegiat digital sekaligus angel investro dan pendiri Nusantara Venture dan bubu.com. Shinta juga menjadi sesorang yang memprakasai ajang Bubu Award, ajang penghargaan web design dan digital marketing dan Pesta Blogger, ajang kopi darat para narablog Indonesia.

    Shinta merupakan lulusan jurusan Arsitektur di Universitas Oregon Amerika dan melanjutkan pendidikan Master of Business Administration di Universitas Negeri Portland. Meskipun dirinya tidak mempunyai latar belakang pedidikan di bidang teknologi, namun perempuan berusia 50 tahun ini memiliki tertarikan dalam bidang tersebut karena dirinya pernah bekerja sebagai graduate assistant di sebuah laboratorium komputer di kampusnya.

    Seiring dengan berjalannya waktu, dirinya ternyata memiliki minat dalam desain web. Pada tahun 1996, Shinta memutuskan keluar pada sebuah perusahaan konsultan manajemen tempatnya bekerja, lalu mendiirkan Bubu.com bersama temannya.

    Bubu.com sendiri merupakan sebuah situs yang bergerak di bidang web design, namun sekarang telah berubah menjadi perusahaan agensi digital. Tahun 2001 dirinya mulai mengadaka Bubu Award yang merupakan sebuah ajang penghargaan bagi talenta industri digital Indonesia.

    Pada Tahun 2011, Shinta mengadakan IDByte sebagai ekstensi dari acara Bubu Awards. IDByte biasanya diadakan selama 3 hari dan mencakup pameran, seminar dan konferensi bagi industri digital. Selama ini, IDByte tleah menghadirkan pembicara dari berbagai persuahaan teknologi ternama di dunia seperti Facebook, Twitter, Amazon, Google, Dentsu-Aegis, 500 startups dan masih banyak lagi.

    Tahun 2013, Shinta mendirikan Bubu Ventures yang akan berdiri terpisah dari agensi Bubu. Saat ini, dirinya masih menjabat sebagai CEO dari Bubu.com.

    Alamanda Shantika

    Alamanda Shantika

    Salah satu wanita Indonesia yang berdedikasi dalam dunia teknologi adalah Alamanda Shantika. Alamanda merupakan seorang Founder sekaligus Presiden Direktur Binar Academy.

    Dirinya dan Nadiem Makarim merintik Go-Jek dari nol hingga menjadi digital startup seperti sekarang ini. Sebelum hengkang dari Gojek, dirinya menjabat sebagai mantan Vice President of Product. Namun, Alamanda saat ini lebih memilih menciptakan ekosistem digitalnya sendiri.

    Dilansir dari Kumparan, Binar Academy sendiri merupakan sebuah sekolah gratis selama tiga bulan yang dapat melahirkan programmer berkualitas yang siap menghadapi dunia kerja. Tujuan dibangunnya Binar Academy adalah untuk melahirkan programmer baru dengan mendapatkan akses pendidikan yang bagus dan gratis.

    Kira-kira apa yang membuat Alamanda tertarik di bidang teknologi ya, Paradiva? Rupanya, wanita lulusan Universitas Bina Nusantara ini sudah belajar coding dan matematika dasar sejak belia. Ayahnya sudah mengajarinya matematika dasar sejak umur empat tahun.

    Dilansir dari Pop Bela, dirinya menyatakan bahwa matematika dan IT mampu mengajarinya hal yang lebih dalam tentang problem solving. Maka dari itu, ia sangat menyukai kedua bidang tersebut.

    Alamanda memang memiliki ketertarikan dalam problem solving sejak belia. Dulu, dirinya sering melakukan bongkar-pasang mobil mainann sewaktu kecil.

    Perempuan berusia 32 tahun ini juga mampu mengusai teknoik coding sejak berusia 14 tahun. Pada saat itu, ia sering membuat situs blog pribadi menggunakan teknik tersebut. Dalam mempraktekannya untuk menampilkan warna dan bentuk dalam blognya. Blognya tersebut berisi esai-esai, puisi-puisi dan desain buatannya. Keren kan, Paradiva?

     

    View this post on Instagram

     

    Kata pulang emang paling pas buat Jogja walaupun Jogja bukan kampungku tapi Jogja selalu membawa perasaan kembali ke rumah. Kali ini aku ke Jogja buat ketemu sama murid2 @academybinar x @iconplus_ x @pln_id ini adalah salah satu langkah kecil kami di binar utk melahirkan transformation agent di perusahaan2 besar seperti PLN. Pesan2ku untuk murid2 tadi malam, perjalanan hidupmu ga akan mulus2 terus. Nanti ada masanya kamu kesel + kecewa sama tempatmu, di saat itu terjadi jangan cuma terus ngomongin masalah di belakang, daripada energi mu dipake buat ngomongin masalah terus mendingan buat ngelakuin sesuatu yg bisa merubah keadaan itu. Karena keadaan kita, semua kita yang bikin, bukan orang lain.

    A post shared by Alamanda Shantika Santoso (@alamandas) on

    Amanda Simandjuntak

     

    Satu lagi wanita Indonesia yang memiliki keahlian di bidang coding ialah Amanda Simandjuntak. Perempuan yang memiliki nama lengkap Amanda Aprilianie Simandjuntak ini telah memulai kariernya sebagai programmer sejak tahun 2008. Setelah lulus dari Curtin University, Australia sebagai ahli kompueter sains ia bekerja di sebuah konsultan IT di Australia.

    Dua tahun bekerja di konsultan tersebut, ia mendirikan perusahannya sendiri, yaitu Kolobri Commerce. Sebuah perusahaan konsultan IT yang berbasis di Jakata. Selain memiliki perusahaannya sendiri, Amanda juga membangun Markoding (Mari Kita Koding!) sebuah organisasi dengna misi untuk memberdayakan anak remaja yang kurang mampu di Indonesia dengan mengajarkan keterampilan inovasi dan teknologi, khususnya coding atau pemrograman komputer.

    Prorgram Markoding sendiri dipimpin langsung oleh Amanda untuk mengajarkan para anak dan remaja agar menemukan masalah di lingkungan sekitar mereka, memformulasikan ide solusi digital dan membuat ide mereka menjadi kenyataan.

    Amanda memang memiliki kedekatan dengan anak-anak marginal sejak pertengahan 2017. Saat itu, ia mengunjungi kawasan Cilincing, Jakarata Utara. Ketika itu Amanda menjadi volunteer di salah satu rumah belajar di desa nelayan untuk mengajar matematika dan bahasa inggris.

    Tidak sengaja, dirinya melihat warnet dipemukiman kumuh diatas kali. “Saat aku melihat warnet diatas kali, di situ banyak anak yang jago main komputernya. Dari situ mulailah aku mikir, itu adalah sebuah potensi,” ungkapnya.

    Saat itu Amanda melihat bahwa banyak lulusan SMA/SMK di kawasan tersebut yang kerja serabutan seperti menjadi tukang parkir, tukang tambal ban, dan bukan malah menjadi pekerja tetap.

    Dari sanalah Markoding bermula yang dibangun tahun 2017 untuk menjangkau lebih banyak siswa marginal, jenjang SMP, SMA/SMK dan PKBM dengan belajar coding.

    Ellen Nio

    Ellen Nio merupakan satu dari 5 wanita Indonesia yang mendedikasikan diri mereka dalam teknologi. Ellen pernah menjabat sebagai Team Leader Tim Gubernur untuk Program Percepatan (TGUPP) Jakarta Smart City pada tahun 20016.

    Pada saat itu, dirinya berkesempatan untuk mengoordinasikan Jakarta Smart City dalam menyiapkan e-government system, pengaduan masyarakat dan transparansi data. Tugasnya dan tim mencakup proses perencanaan, pengawasan, mendorong koordinasi yang terlambat, menyelesaikan masalah hingga menggali inovasi baru.

    Kecintaannya dalam teknologi informasi sudah tumbuh sejak kecil. Hal tersebut dipupuk lewat kegemarannya dalam mengutak-atik kompuer dan bermain game. Dirinya berhasil menamakan kuliah Jurusan Informatika di Universitas Pelita Harapan pada tahun 2010. Tahun berikutnya, dirinya berhasil menyabet beasiswa Global IT Scholarship Student untuk melanjutkan pendidikannya di Teknik Komputer di Kyungung University, Korea Selatan.

    Sebelum bergabung dengan TGUPP, dirinya pernah bekerja di sebuah start up digital pada tahun 2013. Pada tahun 2019, Ellen bergabung dengan Tokopedia sebagai Head of Business. Bulan Januari 2020 kemarin, dirinya menjabat sebagai Head of Product hingga saat ini.

     

    View this post on Instagram

     

    Waking up this morning to an email from @forbesasia “After sifting through thousands of nominations, and then convening the best panel of judges ever – from Kai-fu Lee to Hiroshi Mikitani, CZ Zhao and Falguni Nayar – I am very pleased to formally inform you that you have been selected to the Forbes 30 Under 30 Asia list – Class of 2019.” Never imagine I will get it to the Forbes 30 Under 30 Asia 2019 list. I thought my luck ended at the Indonesian list. Very proud to be listed from the very few Associate in the Finance & VC category. Also very pleased to represent Indonesia in this list, as I was told by @forbesindonesia that Indonesia representation in Forbes Asia 30 under 30 list is still very lacking. However, this year we see a sharp increase in Indonesia awardee. Good job for @forbesindonesia team. Forbes 30 under 30 Asia 2019 also writes that “The Future of Finance is (More) Female.” I am very grateful to see all the works had been done in this field and also proud that our works have been highlighted in the article as well. I believe the future is going to the right direction for both Indonesia, young women and girls also better impact in business. #ForbesU30Asia #ForbesUnder30

    A post shared by Ellen Nio (@ellennio) on

    Erika Hutapea

    The last but not least dari deretan 5 wanita Indonesia yang mendedikasikan diri mereka di bidang teknologi adalah Erika Hutapea, Data Analyst Lead Tokopedia. Erika saat ini dipercaya memimpin tim Data Analyst untuk TopAds di Tokopedia. Praktiknya, Erika bersama tim membantu mengoptimalkan penjualan para pegiat usaha di Indonesia yang bergabung bersama Tokopedia, terutama yang sudah menggunakan fitur TopAds, melalui pemanfaatan big data.

    TopAds adalah fitur Tokopedia yang dapat digunakan untuk memaksimalkan penjualan dengan menampilkan produk yang dijual tampil pada peringkat teratas.

    Menurut Erika, data analyst berperan mengatur produk apa saja yang menarik perhatian pembeli, serta memastikan bahwa setiap penjual memiliki kesempatan yang sama untuk terekspos ke lebih dari 90 juta pengguna aktif bulanan Tokopedia.

    “Seorang data analyst adalah seorang konsultan. Kami bertugas memberikan informasi kepada penjual mengenai keyword yang sedang menjadi tren sehingga bisa dimanfaatkan untuk mendorong penjualan mereka,” tambah Erika.

    Ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki seorang data analyst. Salah satunya kemampuan berpikir logis dan terstruktur. Kemampuan teknis seperti matematika, bahasa pemrograman, serta pengetahuan bisnis, di sisi lain juga tidak kalah penting.

    Erika juga selalu percaya bahwa bidang teknologi adalah bidang karir yang tidak memandang gender, melainkan kemampuan. “Tidak peduli perempuan atau laki-laki, kami di Tokopedia selalu diberikan ruang yang sama dalam berkarya untuk Indonesia melalui teknologi,” tutup Erika.

     

    View this post on Instagram

     

    Learn to love yourself first . . . . Captured by: @ken.prabowo

    A post shared by erikamellinacarolina (@erikahutapea) on

    Baca juga,

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Latest Posts

    POPULAR