Elizabeth Holmes, Perempuan ‘The Next Steve Jobs’ Kini Terancam Penjara

0
117
Elizabeth Holmes

Elizabeth Holmes, nama yang pada 2014 sempat menggemparkan dunia startup karena telah menjadi miliuner di usia-nya yang masih 30 tahun. Perempuan kelahiran 1984 ini tidak sempat lulus dari kuliahnya di Stanford University. Namun dia berhasil membuat perusahaan rintisan di bidang kesehatan.

Startup yang dibuat Elizabeth Holmes memang sangat revolusioner. Pasalnya, hanya dengan beberapa tetes darah dan tanpa harus melibatkan jarum suntik, sampel itu dapat mendeteksi banyak penyakit, mulai dari kanker sampai diabetes. Jadi tak perlu sampel darah dalam jumlah banyak dan diambil berkali-kali hanya untuk mendeteksi berbagai penyakit.

Elizabeth Holmes

Perusahaan Elizabeth Holmes kala itu bernama Theranos. Saking menjanjikannya, banyak investor yang ikut menanamkan uangnya di sana dan rata-rata adalah orang-orang penting. Mulai dari Henry Kissinger sampai Rupert Murdoch. Tidak heran jika kemudian valuasi perusahaanya bisa sampai USD9 miliar atau setara Rp128 triliun.

Baca juga: 4 Influencer Perempuan di TikTok dengan Bayaran Tertinggi

Usia Theranos dan masa kejayaan Holmes rupanya hanya sampai setahun. Pada 2015, banyak orang yang mengeluhkan inovasinya itu dan menganggapnya sebagai inovasi palsu. Teknologi yang ia klaim ternyata tidak berfungsi sama sekali, alias tidak mampu mendeteksi penyakit. Lalu pada 2018, perusahaannya pun bangkrut.

Kini setelah tujuh tahun, Holmes pun mulai dipanggil pengadilan untuk disidang. Kemungkinan besar, dia akan dipenjara selama 20 tahun jika dinyatakan bersalah oleh pengadilan. Total tuntutan yang diajukan kepadanya mencapai 12, rata-rata terkait kasus penipuan. Sayangnya, Holmes tidak pernah membela diri di depan publik. Saat bertemu media, dia pun hanya diam tak berkata sepatah pun.

Yang menarik, baru-baru ini sang pengacara mengatakan jika saat ini Holmes sedang sakit mental. Saat kasus ini menyeruak, Holmes dikabarkan mendapatkan kekerasan seksual dan emosiomal dari mantan pacar yang sekaligus partner bisnisnya, Ramesh Balwani. Pria berusia 56 tahun itu juga mendapatkan tuduhan atas kasus yang sama.

Kisah Masa Kecil

Banyak orang yang heran dengan keputusannya untuk mempertahankan teknologi yang sejatinya ia tahu tak akan berfungsi. Pasalnya, Holmes dibesarkan di lingkungan yang berada di Washington DC. Seorang inventor dan pebisnis, Richard Puisz yang saat ini berusia 81 tahun mengaku kenal dengan Holmes dan keluarganya karena ia tinggal bertetangga. Fuisz berspekulasi jika Holmes kemungkinan merasa tertekan untuk bisa sukses seperti keluarganya.

Ternyata orang tua Holmes merupakan birokrat di Capitol Hill. Mereka disebut sebagai orang-orang yang sangat memperhatikan status atau kasta. Kakek buyut Holmes merupaka penemu ragi Fleischmann yang sangat berjasa bagi industri roti di Amerika.

Pada usia sembilan tahun, Elizabeth muda menulis sepucuk surat kepada ayahnya yang menyatakan bahwa apa yang “benar-benar dia inginkan dari kehidupan adalah menemukan sesuatu yang baru, sesuatu yang tidak disadari bahwa manusia dapat melakukannya”.

Baca juga: Anastasia Pagonis, Artis TikTok dan Peraih Medail Emas di Tokyo Paralympic

Ketika dia masuk ke Universitas Stanford pada tahun 2002 untuk belajar teknik kimia, dia datang dengan ide ‘koyo pemindai’. Dia yakin jika sebuah koyo bisa dibuat sedemikian rupa untuk bisa memindai penyakit yang ada dalam tubuh pemakainya, termasuk infeksi. Selain bisa memindai, koyo itu juga bisa menyuntikkan antibiotik sesuai kebutuhan.

Pada usia 18 tahun, dia dikabarkan sudah menemukan cikal bakal Theranos. Sang dosen, Phyllis Gardner, seorang profesor farmakologi di Stanford sempat memperingatkan dirinya jika metode pemindai tetes darah tidak akan bisa mendeteksi banyak penyakit sekaligus. Namun Holmes tidak mendengarkannya dan tetap percaya diri dengan temuannya.

Beberapa bulan setelah pertemuan dengan Prof. Phyllis, Holmes memutuskan untuk tak melanjutkan kuliahnya. Dia keluar dari Stanford di usianya yang masih 19 tahun.

Dalam memperkenalkan temuannya itu, Holmes mendapatkan dukungan dari banyak orang penting seperti Menteri Keuangan AS George Schultz, jenderal Korps Marinir James Mattis yang masuk dalam pemerintahan Trump, serta The Walton, keluarga terkaya Amerika. Inilah sebabnya banyak investor penting yang terjebak rayuannya, termasuk bank yang meminjamkannya kredit untuk menjalankan usaha itu.

Kabarnya, kisah Holmes ini akan dibukukan, juga menjadi target untuk film dokumenter di HBO. Beberapa stasiun TV juga berniat untuk mengambil kisahnya menjadi sebuah serial TV atau film.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here