Tips untuk Perempuan Agar Bisa Sukses Bekerja di Dunia Teknologi

0
27
tips untuk perempuan
Photo by Soundtrap on Unsplash

Gadgetdiva.id — Para panelis Women with Impact East Ventures berbagi tips untuk perempuan bekerja di dunia teknologi. Dalam panel terbaru program Women with Impact yang diiniasiasi venture capital East Ventures, terdapat beberapa tips dari para perempuan pemipin perusahaan agar bisa bertahan bekerja di perusahaan teknologi.

Diketahui, menurut studi BCG, lebih dari 50% lulusan Indonesia adalah perempuan, tetapi hanya 32% dari tenaga kerja adalah perempuan. Selain itu, di tingkat manajemen senior dan CEO atau dewan, hanya 18% dan 15% adalah perempuan.

Avina Sugiarto, Partner East Ventures menyebutkan bahwa saat ini 25% dari portofolio aktif East Ventures memiliki setidaknya satu founder perempuan. Dia percaya bahwa East Ventures akan terus mendukung pemberdayaan perempuan dan berkontribusi untuk mengurangi ketidaksetaraan gender dan meningkatkan keragaman dalam industri teknologi melalui platform “Women With Impact” untuk memfasilitasi dan mendorong terciptanya hubungan yang bermakna antara investor dan founder.

Tidak heran jika PBB menyatakan bahwa berinvestasi pada wanita juga akan meningkatkan PDB negara, kinerja bisnis yang lebih baik, dan membantu pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030, termasuk tujuan sosial dan lingkungan.

tips untuk perempuan
Panelis dari program Women with Impact yang diadakan pada 16 August 2022, di SKYE, Jakarta *kiri ke kanan*: Nicha Suebwonglee, Venture Capital Business Development Manager, ASEAN, Amazon Web Services (AWS); Veronica Colondam, Founder dan CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation dan YCAB Ventures; Tessa Wijaya, Co-Founder & COO Xendit; Avina Sugiarto, Partner East Ventures.

Tips untuk perempuan bekerja di dunia teknologi

Berikut ini beberapa tips yang dirangkum East Ventures dari panelis yang hadir dalam event tersebut, yang dihadiri Nicha Suebwonglee, Venture Capital Business Development Manager, ASEAN, Amazon Web Services (AWS); Veronica Colondam, Founder dan CEO Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB) Foundation dan YCAB Ventures; Tessa Wijaya, Co-Founder & COO Xendit; Avina Sugiarto, Partner East Ventures.

Gunakan suara Anda
Ada kalanya seorang wanita memiliki lebih banyak keraguan terhadap diri sendiri, hal ini diperparah perundungan terselubung yang kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Kuncinya adalah percaya diri dan jalankan saja. Anda berhak untuk menjadi bagian dari ekosistem dan menyuarakan pemikiran Anda.

Belajar dari pengalaman orang lain
Dalam beberapa kasus, baik dalam mengembangkan bisnis, atau penggalangan dana, founder perempuan cenderung sungkan meminta bantuan, seperti mentor atau pendiri lainnya. Keraguan ini adalah kelemahan utama. Memiliki sistem pendukung di mana Anda dapat belajar, bertanya, dan bahkan mendiskusikan hal-hal yang selalu ingin Anda pahami sangatlah penting.

Jangan takut dengan hal-hal teknis
Dalam membangun sebuah startup, atau bahkan dalam situasi kerja atau kehidupan sehari-hari, kita sering terintimidasi oleh masalah teknis, yang merugikan karena hasilnya menempatkan kita di tempat yang sama. Beranikan diri, karena ada banyak sumber tersedia dimana Anda bisa belajar dan melompat.

Lebih agresif
Jadilah lebih agresif dalam berbagai aspek kehidupan, nyatakan dan tentukan hal-hal yang Anda inginkan, termasuk penggalangan dana dan perkembangan bisnis Anda. Ada kesenjangan dalam pendanaan yang diterima oleh startup yang dipimpin oleh pria dan wanita, oleh karena itu jadilah lebih agresif untuk mendapatkan apa yang Anda butuhkan.

Kegigihan dan Ketekunan karena passion saja tidak berarti apa-apa
Passion mungkin secara signifikan mendorong kesuksesan Anda, tetapi passion juga harus didorong dengan semangat dan ketekunan.

Bekerja sama dengan pria
Diskusi tentang pemberdayaan gender melibatkan laki-laki dan perempuan. Karena 50% dari populasi Indonesia adalah laki-laki, kami percaya bahwa upaya pemberdayaan adalah upaya untuk menemukan kolaborasi yang tepat antara satu sama lain. Sangat penting untuk bersekutu, mendapatkan dukungan, dan membangun koneksi. Dengan demikian, kedua perspektif dapat membuat kemajuan yang lebih inklusif.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini