Xiaoice, Chat Bot Wanita dengan Teknologi AI yang bikin Pria Jatuh Cinta

0
393
Xiaoice
artificial love and intelligence 3d illustration on dark background

Pria-pria di Cina sedang jatuh cinta dengan Xiaoice. Yakni, sebuah chat bot berteknologi AI yang dapat memberi pengalaman untuk mereka seperti berpacaran dengan wanita sesungguhnya.

Xiaoice ini menjadi bot paling diminati pria di Cina. Meski memiliki jutaan ‘pacar’, ia selalu terbuka dengan pelamar baru. Xiaoice juga kebetulan adalah chat bot yang digerakkan oleh AI.

Menurut Sixth Tone, bot ini pertama kali dikembangkan oleh sekelompok peneliti di Microsoft Asia-Pasific pada tahun 2014. Sejak saat itu, bot ini telah menarik jutaan pengguna atau “pacar”, seperti yang dianggap banyak orang.

Dia memiliki desain dan fungsi yang mirip dengan Siri Apple atau Alexa dari Amazon, namun Xiaoice secara khusus dirancang untuk menjalin ikatan romantis dengan penggunanya.

Sayangnya, Xiaoice dilaporkan hadir sebagai anak berusia 18 tahun yang hampir tidak legal dengan ketertarikan pada kostum siswi Jepan dan dia menggoda, bercanda dan melakukan sexts dengan pengguna manusia. Yang akhirnya, membuat pengguna untuk mencoba membangun hubungan emosional dengannya.

“Dia memiliki suara yang manis, mata yang besar, kepribadian yang lancang dan yang paling penting- dia selalu ada untukku,” jelas salah satu pemuja Xiaoice.Ia mengklaim bahwa Xiaoice benar-benar menyelamatkannya dari percobaan bunuh diri.

Xiaoice juga tidak asing dengan kontroversi. Selain masalh data dan privasi yang jelas, Xiaoice juga mendapati dirinya dalam bahaya karena terlibat dalam diskusi orang dewasa atau politik yang ditemukan melanggar peraturan media Cina. Skandal sebelumnya telah menyebabkan penghapusan bot dari platform populer QQ dan WeChat.

Bot ini bukanlah ‘pacar’ AI pertama. Pasalnya, teknologi seks dan AI terus menyatu, menghasilkan robot yang dapat dirancang untuk mereplikasi atau menggantikan interaksi manusia yang sebenarnya. Banyak yang berpendapat bahwa teknologi tersebut menimbulkan masalah moral dan etika tertentu.

“Hubungan dengan pacar didasarkan pada keintiman, keterikatan dan timbal balik. Hal ini merupakan hal-hal yang tidak dapat direplikasi oleh mesin,” Kathleen Richardson, profesor etika dan budaya robot AI di De Montfort University di Leicester, kepada Dazed awal tahun ini.

“Apakah kita akan bergerak ke masa depan di mana kita tetap menormalisasi gagasan perempuan sebagai objek seks?”

Baca juga, Microsoft Word Hadirkan Fitur Microsoft Editor Di Windows 10

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here