Warna Ungu dan Kaitannya dengan Kekayaan

0
240

Warna ungu telah dikaitkan dengan keluarga kerajaan, kekuasaan dan kekayaan selama berabad-abad. Nyatanya, Ratu Elizabeth I melarang siapapun kecuali anggota keluarga kerajaan untuk memakainya. Status elit Ungu berasal dari kelangkaan dan biaya pewarna yang awalnya digunakan untuk memproduksinya.

Kain ungu dulu sangat mahal sehingga hanya penguasa yang mampu membelinya. Pewarna yang awalnya digunakan untuk membuat warna ungu berasal dari kota perdagangan Fenisia, Tirus yang sekarang menjadi Lebanon modern. Pedangang kain memperoleh pewarna dari moluska kecil yang hanya ditemukan di wilayah Tirus di Laut Mediterania.

Banyak pekerjaan dilakukan untuk menghasilkan perwarna, pasalnya lebih dari 9.000 moluska dibutuhkan untuk membuat hanya satu gram ungu Tyrian. Oleh karena, hanya penguasa kaya yang mampu membeli dan memakai warna tersebut dan dapat dikatikan dengan kelas kekaisaran Roma, Mesir dan Persia.

Ungu juga mewakili spiritualitas dan kesucian karena para kaisar, raja dan ratu kuno yang mengenakan warna tersebut sering dianggap sebagai dewa atau keturunan dewa. Terkadang, bagaimanapun, pewarna tersebut terlalu mahal bahkan untuk bangsawan. Kaisar Romawai abad ketiga Aurelian terkenal tidak mengizinkan istrinya membeli selendang yang terbuat dari sutra ungu Tyrian karena syal tersebut benar-benar berharga emas.

Eksklusivitas Ungu dibawa ke era Elizabeth (1558 hingga 1603), dimana setiap orang di Inggris harus mematuji Undang-undang Sumptuary yang secara ketat mengatur warna, kain dan pakaian apa yang bisa dan tidak bisa dipakai oleh kelas yang berbeda dalam masyarakat Inggris.

Sumptuary Laws Ratu Elizabeth I yang melarang siapapun kecuali kerabat dekat keluarga kerajaan memakai warna ungu, jadi warnanya tidak hanya mencerminkan kekayaan pemakainya tetapi juga status kebesaran mereka.

Warna tersebut menjadi lebih mudah diakses oleh kelas bawah sekitar satu setengah abad yang lalu. Pada tahun 1856, ahli kimia Inggris berusia 18 tahun William Henry Perkin secara tidak sengaja menciptakan senyawa ungu sintetis saat mencoba mensintesis kina, obat anti-malaria.

Dia memperhatikan bahwa senyawa tersebut dapat digunakan untuk mewarnai kain, jadi ia mematenkan pewarna dan memproduksinya dengan nama aniline purple dan Tyrian purple, menghasilkan keuntungan dalam prosesnya.

Nama warna tersebut kemudian diubah menjadi “mauve” pada tahun 1859, berdasarkan nama Prancis untuk bunga mallow ungu, dengan para ahli kimia yang menyebut senyawa pewarna mauveine. Dan begitulah warna elit kerajaan menjadi tersedia secara luas dan terjangkau berkat eksperimen kebetulan ilmuwan muda.

Baca juga, 10 Gadget Ungu Buat Si Sagitarius

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here