Wednesday, 4 August 2021
More

    Latest Posts


    Gredu: Cara mengajar vs cara belajar, mana yang didahulukan?

    GREDU, perusahaan edutech berbasis kolaborasi mengangkat permasalahan di atas melalui webinar berjudul, “Cara Mengajar vs. Cara Belajar, Mana yang Didahulukan?”

    Webinar ini mengundang Iwan Ridwan, Dewan Pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI) DKI Jakarta, Iim Fahima Jachja, pendiri komunitas Queenrides dan figur publik yang aktif berbagi cerita parenting dan keluarga di media sosial, serta Dara Nasution yang kini sedang menempuh pendidikan Master of Public Policy di Blavatnik School of Government, Oxford University.

    Cara belajar murid yang berbeda-beda, memang menjadi tantangan tersendiri untuk guru. Iwan yang telah memiliki pengalaman mengajar selama 26 tahun menyetujui hal tersebut. Oleh sebab itu, menurutnya, gurulah harus mampu beradaptasi dengan berbagai cara belajar murid. Guru dapat mengakomodasi cara belajar murid yang beragam itu dengan menampilkan cara mengajar yang beragam pula.

    “Di kelas, bisa saja guru menerangkan lebih dahulu, lalu meminta murid membaca dan membuat catatan, lalu memberikan tugas kelompok di mana mereka saling berdiskusi, membuat karya, atau penelitian, sehingga murid-murid dapat memahami pelajaran dengan caranya masing-masing,” tutur Iwan.

    Selain itu, Iwan mengingatkan bahwa kesenangan anak dalam menghadapi pembelajaran merupakan hal utama yang harus ditumbuhkan oleh para guru. Sebab, itu adalah kunci agar proses pembelajaran berjalan secara efektif.

    Dalam webinar ini, Dara juga bercerita tentang pengalamannya menempuh pendidikan di Pematangsiantar sejak sekolah dasar hingga menengah atas. Dara mengatakan, saat itu ia sempat menghadapi berbagai kendala.

    Mulai dari ritme belajar yang berbeda dari guru dan teman-temannya, infrastruktur atau fasilitas yang kurang memadai, hingga budaya yang cenderung menghambat perkembangannya. Namun, Dara tidak patah semangat karena ia miliki tujuan yang lebih besar dibandingkan dengan kendala yang ia hadapi.

    Menurut Dara, peran orang tuanya sangat besar. Sebagai role model, orang tua Dara memberikan contoh yang baik seperti kebiasaan membaca. “Aku suka banget baca karena melihat orang tuaku gemar membaca. Aku dibiarkan membaca berbagai macam buku selama sejalan dengan usia, terlepas dari keadaan yang cukup terbatas saat itu. Ketika aku merasa kesulitan atau mengeluh, orang tuaku juga selalu memberikan dukungan dengan kata-kata dan caranya sendiri.”

    Menanggapi hal tersebut, Iim sepakat dengan Dara terkait orang tua sebagai role model. Iim mengaku membebaskan anak-anaknya dalam belajar, asalkan sesuai dengan minat mereka dan tidak melupakan hal yang paling mendasar, yaitu matematika dan literasi.

    “Ketika anak mempelajari sesuatu yang disukainya, semangatnya pasti tidak habis-habis. Namun, jangan lupa untuk membuat target-target yang perlu dicapai untuk menumbuhkan rasa bertanggung jawab,” kata Iim.

    Peran orang tua adalah mengarahkan mereka agar sampai pada target tersebut dan mendorong anak untuk selalu berproses.

    Sebagai penutup, ketiga panelis pada webinar yang dimoderasi oleh Cipta Mulia, peneliti dari GREDU itu sepakat bahwa pendidikan perlu berpusat pada anak. Guru dan orang tua sebagai orang dewasa adalah pihak-pihak yang harus bijak menjembatani situasi anak dengan situasi-situasi di luar dirinya yang belum ia mengerti.

    Itulah mengapa, ujar Iwan, sangat penting untuk memulai kegiatan belajar dengan menjelaskan pada anak tentang manfaat dan tujuan dari hal-hal yang perlu dipelajarinya. Selain itu, harus selalu diingat bahwa setiap anak memiliki potensinya masing-masing. Jangan sampai terkubur hanya karena bidang yang tidak ia minati hanya berada pada tingkat rata-rata.

    Baca juga, Platform Gredu kenalkan fitur kelas interaktif dan tugas online

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here

    Latest Posts

    POPULAR