Social Bella Kenalkan Model Bisnis Baru di Indonesia, SHEconomy

0
64
Social Bella

Gadgetdiva.id — Perluas bisnis kecantikan dan perawatan diri, Social Bella garap potentsi SHEconomy di Indonesia. Guna mencapai misi terbarunya, yakni “Liberating Self-Care”.

SHEconomy sendiri merupakan istilah yang dibuat oleh Social Bella yang merajuk pada pertumbuhan ekonomi. Dimana pertumbuhan ekonomi tersebut berfokus pada kebutuhan kaum perempuan.

Dengan SHEeconomy, Social Bella hadir dengan ambisi dan model bisnis baru. Perusahaan memperkirakan dapat mencapai 59 miliar USD dengan proyeksi CAGR sebesar 9,4% melalui ekspansi tersebut.

SHEconomy

“Memperingati hari ulang tahun Social Bella di bulan Maret ini, kami ingin secara terbuka memperkenalkan model bisnis baru kami, yaitu SHEcosystem,” jelas Christopher Madiam selaku Co-Founder & President Social Bella dalam sebuah rilis yang diterima Gadgetdiva pada Rabu (30/3).

SHEcosystem sendiri, lanjut Christopher, akan membantu Social Bella dalam membangun dan menghubungkan beberapa ekosistem dari berbagai industri berbeda menjadi satu ekosistem yang terintegrasi. Ekosistem ini juga kaan turut menciptakan peluang bagi perusahaan untuk melakukan ekspansi multi-dimensional. Sehingga, mampu mencapai target yang telah mereka tetapkan.

SHEconomy

Aplikasi Lilla merupakan salah satu inisiasi Social Bella dari SHEconomy dan SHEcosystem. Yang mana merupakan ekspansi Social bella di luar pasar kecantikan dan perawatan diri selain Sociolla.

Aplikasi Lilla sendiri kini telah menjadi top of mind brand bagi ibu dan anak di Indonesia. Dimana juga menjadi salah satu fokus utama Soical Bella di 2022.

“Ekspansi bisnis yang masif seperti ekspansi gerai omnichannel Sociolla dan peluncuran unit bisnis baru Lilla semasa pandemi mungkin terlihat cukup berani bagi sebagian pihak, tetapi setiap inisiatif yang kami lakukan selalu diperhitungkan dengan sangat cermat. Inilah cara kami menjalankan bisnis sejak hari  pertama yang membawa kami ke titik hari ini, dan pandemi justru semakin membuktikan ketahanan model bisnis kami dalam jangka panjang,” ujar John Rasjid selaku Co-Founder & CEO Social Bella. 

SHEconomy

Di tahun 2020, Social Bella cukup cepat beradaptasi dengan situasi pandemi. Mereka tak hanya melakukan pengembangan bisnis di Indonesia, namun juga melakukan ekspansi ke Vietnam. Bahkan, telah mampu menghadirkan 10 gerai di sana.

Sementara, pada tahun 2021, Social Bella telah melajutkan ekspansi geria omnichannel yang pertumbuhannya mencapai 10 kali lipat sejak gerai pertama dibuka pada 2019. Mereka kini memiliki 24 gudang multifungsi yang telah tersebar di wilayah Indonesia sehingga dapat melayani lebih dari 55.000 titik penjualan untuk bisnis Brand Development.

Tak hanya hadirkan SHEconomy, namun juga misi Liberating Self-care

Selain mengenalkan SHEconomy, Social Bella juga turut menghadirkan misi baru, yakni Liberating Self-care. Seperti yang dijelaskan oleh Christianti Indiana, Co-Founder dan CMO Social Bella.

Liberating Self-care berarti memberi kebebasan bagi pengguna, pelanggan dan konsumen dari segara kesulitan serta keterbasan yang mereka hadapi. Guna memberi perawatan terbaik bagi diri mereka dan orang yang dicintai.

SHEconomy

“Konsumen selalu menjadi pusat dari apapun yang kami lakukan, merekalah yang membantu kami hingga  berada di posisi kami saat ini. Teknologi dan ekosistem Social Bella dibangun agar kami dapat memahami  pelanggan kami lebih dari mereka memahami diri mereka sendiri. Kami tahu apa yang mereka inginkan  bahkan sebelum mereka tahu mereka menginginkannya,” jelas Chistianti. 

Ia juga menambahkan bahwa pemahaman pelanggan yang kaut dan berbasis data menjadi kunci perusahaan dalam menghadirkan pendekatan terbaik untuk menangkap potensi pasar dan berkomunikasi dengan pelanggan.

Christianti juga turut menjelaskan obsesi Social Bellla yang lebih baik bagi pengguna. Salah satunya dengan menghadirkan kampanye Glow From Home.

SHEconomy

Melalui kampanye tersebut, Social Bella dapat menghadrikan solusi total bagi perawatan diri di rumah yang sangat dibutuhkan pada masa awal pandemi. Ada juga kampanye Lovel Local untuk mendukung brand lokal yang terdampak oleh pandemi terutama  dari sisi operasionalnya, atau dengan gerakan Waste Down Beauty Up yang mengusung kecantikan  berkelanjutan dan diinisiasi untuk meningkatkan kesadaran para pecinta kecantikan Indonesia akan isu sustainbility. 

Setiap kampanye yang kami lakukan selalu  menjawab kebutuhan dan perilaku yang relevan dari konsumen lokal. Kami selalu setia pada nilai yang berpusat pada konsumen atau customer-centric, dan itulah  yang membuat kami tidak gentar meskipun ada tantangan yang menghadang,” tutup Christianti. 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini